Minggu, 28 Februari 2010

Toleransi Galat Arah Kiblat Untuk Tidak Mudah Menyalahkan Arah Kiblat Masjid-Masjid Yang Ada

Toleransi Galat Arah Kiblat
Untuk Tidak Mudah Menyalahkan Arah Kiblat Masjid-Masjid Yang Ada




Pensyari’atan Menghadap Kiblat  dalam pelaksanaan ibadah antara lain berdasarkan firman Allah dalam QS al-Baqarah/2: 149-150:

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

Serta hadis Rasulullah yang menjelaskan bahwa ”Baitullah adalah kiblat bagi orang-orang di al-Masjid al-Haram. Al-Masjid al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang penduduk tanah haram (Mekah), dan tanah haram adalah kiblat bagi semua umatku di Bumi, baik di barat ataupun di timur” (HR. al-Baihaqi dari Abu Hurairah).

Kedua nash tersebut dijadikan landasan pensyari’atan kewajiban menghadap kiblat dalam pelaksanaan ibadah. Fuqaha kemudian menyatakan bahwa mengatakan bahwa menghadap kiblat merupakan syarat sah dalam pelaksanaan salat lima waktu. Dengan lain perkataan jika seseorang salat tidak menghadap kiblat, maka salat yang dilaksanakannya tidak sah.

Bagi mereka yang melaksanakan salat di masjidil haram dapat secara langsung melaksankan salat menghadap ke Ka’bah Baitullah. Dan bagi mereka yang jauh dari Ka’bah dalam melaksanakan syariat menghadap kiblat ini terdapat perbedaan pendapat para ulama. Jumhur Ulama (selain Syafi’i) mensyari’atkan untuk menghadap jihat (arah) Ka’bah. Sedangkan Syafi’i berpendapat bahwa kewajiban menghadap kiblat itu adalah menghadap ke ‘ainul Ka’bah (az-Zuhaili: 758)

Penyempurnaan arah kiblat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat bukan berarti adanya perubahan  arah kiblat. Sebenarnya arah kiblat tidak berubah tapi  dilakukannya perubahan bagi arah kiblat masjid yang melenceng jauh dari arah Ka’bah. Perlu penyempurnan atau pemeriksaan ulang arah kiblat masjid dan musala di sekitar kita. Hal ini karena beberapa pertimbangan:

Waktu Salat Ditinjau Dari Segi Hisab Rukyat : 5 Waktu Salat Wajib, Waktu Salat Di Wilayah Sekitar Kutub, Waktu Salat Bagi Astronot, dan Waktu Salat Gerhana Matahari Dan Bulan

Waktu Salat Ditinjau Dari Segi Hisab Rukyat :







1. 5 Waktu Salat Wajib
Secara syar’i, salat yang diwajibkan (salat maktubah) itu mempunyai waktu-waktu yang telah ditentukan (sehingga didefinisi sebagai ibadah muwaqqat). Al-Qur’an menguraikan waktu-waktu salat tersebut walaupun belum secara terperinci. Penjelasannya yang terperinci diterangkan dalam hadis Nabi. Berdasarkan dalil-dalil tersebut, para ulama memberikan batasan-batasan waktu salat. Ada sebagian yang mengasumsikan bahwa cara menentukan waktu salat dengan menggunakan cara melihat langsung pada tanda-tanda alam sebagaimana secara tekstual dalam hadis-hadis Nabi, seperti menggunakan alat bantu tongkat istiwa’ atau miqyas atau hemispherium.  Inilah metode atau cara yang digunakan oleh madzhab rukyah dalam persoalan penentuan waktu-waktu salat (http://www.alhusiniyah.com).

Sedangkan yang lain mempunyai pemahaman kontekstual, sesuai dengan maksud dari nash-nash tersebut, di mana awal dan akhir waktu salat ditentukan berdasarkan posisi matahari dilihat dari suatu tempat di bumi, sehingga metode atau cara yang dipakai adalah hisab, pada hakikatnya waktu salat adalah menghitung kapan matahari akan menempati posisi-posisi seperti tersebut dalam nash-nash tentang waktu salat itu (http://www.alhusiniyah.com).

Rabu, 20 Januari 2010

Wacana Takwim Urfi Dalam Penanggalan Islam

Wacana Takwim Urfi Dalam Penanggalan Islam[1]












Abstrak
Takwim Urfi adalah sistem penanggalan yang bersifat perhitungan rata-rata. Takwim yang berdasarkan hisab Urfi disepakati oleh para ulama tidak sah untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan ibadah dalam Islam. Namun karena kemudahan dan keajegan perhitungan takwim yang berdasarkan hisab Urfi, maka dapat dijadikan alternatif dalam wacana unifikasi penanggalan Hijriah Internasional dalam Islam.

Kata Kunci: Takwim, Hisab Urfi, Hisab Hakiki.

Catatan Idul Adha 1430 H: Serentak Merayakan Hari Raya Idul Adha 1430 H

Serentak Merayakan Hari Raya 
Idul Adha 1430 H[*]











Abstrak
Merupakan kebahagiaan kita bersama karena dapat  merayakan hari Raya Idul Adha 1430 H secara serentak. Hal ini karena pada hari Raya Idul Adha ini ketinggian hilal melebihi kriteria imkanur rukyah di samping itu garis tanggal 1 Zulhijah 1430 H kondisinya relatif sama antara Indonesia dan Arab Saudi. Sehingga tidak terdapat perbedaan antara perayaan hari Raya pada kedua negara tersebut. Kondisi saat ini “tertolong” karena posisi hilal semata tapi masih menyimpan potensi perbedaan di masa- masa mendatang.

Senin, 19 Oktober 2009

Pentashihan Buku Yasin yang Beredar di Masyarakat:Upaya Memelihara Otensitas al-Qur’an

Pentashihan Buku Yasin yang Beredar di Masyarakat:Upaya Memelihara Otensitas al-Qur’an







Abstrak
Faktanya terdapat kesalahan dalam penulisan buku Yasin yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Bentuk kesalahan-kesalahan yang ditemukan dapat dikelompokkan sebagai berikut: kesalahan huruf, kesalahan harakat, kesalahan teknis penulisan, dan inkonsistensi dalam penulisan. Kesalahan huruf, kesalahan harakat, dan kesalahan teknis penulisan di atas termasuk kategori kesalahan yang merubah makna ayat. Kesalahan yang tidak merubah makna ayat misalnya inkonsistensi dalam penulisan antara mengikuti rasm Utsmani dan atau mengikuti rasm Imla’i. Kiranya kondisi ini perlu menjadi perhatian semua pihak yang terkait dalam menjaga dan memelihara otentisitas al-Qur’an. Diperlukan dedikasi Lajnah Pentashih al-Qur’an sebagai lembaga yang diberi kewenangan oleh Pemerintah, di sisi lain dibutuhkan komitmen dari penulis dan pihak percetakan. Yang tak kalah pentingnya adalah setiap pribadi muslim ikut mentashih dan mengontrol peredaran buku Yasin tersebut .

Kata kunci: buku Yasin, tashih, pemeliharaan otentisitas al-Qur’an.

Takwim Hijriah Menurut Kitab Nur al-Anwar: Sistem Penanggalan Islam Berdasarkan Hisab Hakiki bi at-Tahqiqi

Takwim Hijriah Menurut Kitab Nur al-Anwar:
Sistem Penanggalan Islam Berdasarkan Hisab Hakiki bi at-Tahqiqi









Abstrak
Konsep kitab Nur al-Anwar tentang penanggalan Islam, dapat kita telusuri melalui rumusannya tentang penentuan permulaan hari, umur bulan Kamariah setiap bulannya, hilal, serta penetapan awal bulan. Permulaan hari di mulai dari terbenamnya Matahari. Sebagai kitab yang berdasarkan perhitungan Hakiki bi at-Tahqiqi; jumlah hari setiap bulannya tidak bersifat tetap atau konstan tetapi tergantung posisi hilal yang sebenarnya pada akhir suatu bulan itu. Dalam penentuan awal bulan, kitab Nur al-Anwar hanya sebagai alat atau metode perhitungan. Ia tidak menetapkan telah masuk atau belumnya new month. Setelah dilakukan perhitungan oleh hasib, selanjutnya hasiblah yang menentukan tentu saja berdasarkan kriteria yang diyakininya.

Takwim Hijriah: Penanggalan Islam Pedoman untuk Pelaksanaan Ibadah

Takwim Hijriah: Penanggalan Islam Pedoman untuk Pelaksanaan Ibadah











Abstrak
Takwim Hijriah hisab hakiki adalah sistem penanggalan yang berpedoman pada pergerakan ril bulan. Dikategorikan sebagai sistem penanggalan astronomical calendar, karena didasarkan pada realitas fenomena astronomi yang terjadi. Jumlah hari setiap bulannya tidak bersifat tetap atau konstan dan bukan pula tidak beraturan tetapi tergantung pada posisi hilal yang sebenarnya pada akhir suatu bulan. Inilah kiranya di antara karakteristik takwim hijriah yang berdasarkan hisab hakiki dan yang membedakannya dengan yang berdasarkan hisab urfi. Takwim hijriah yang berdasarkan hisab hakiki inilah yang disepakati oleh para ulama untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan ibadah dalam Islam.

Key word: Takwim Hijriah, Hisab Hakiki, Hisab Urfi, Pedoman Pelaksanaan Ibadah.

Pendahuluan
Akhir-akhir ini jamak kita mendapati perbedaan seputar penetapan awal Ramadan, awal Syawal, dan awal Zulhijah. Dalam mengawali puasa Ramadan terkadang terdapat beberapa hari yang berbeda. Misalnya pemerintah mengumumkan hari Minggu adalah permulaan puasa Ramadan 1430 H. Padahal sebagian kelompok tarekat tertentu telah memulai puasa Ramadan mereka hari Sabtunya. Lain lagi dengan kelompok Kejawen yang baru berpuasa pada hari Senin. Perbedaan ini lebih banyak lagi jika menelusurinya pada kelompok-kelompok yang lebih kecil scopenya di masyarakat.

Selasa, 28 Juli 2009

AR-RADHA’ FI AL-QUR’AN

AR-RADHA’ FI AL-QUR’AN

Jayusman*






Abstrak

Al-Qur’an mensyari’atkan agar para ibu menyusukan anaknya. Menyusui ini bukan sekedar perintah keagamaan belaka tapi begitu banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Beratnya tugas menyusui yang harus dilakukan ibu diimbangi dengan perintah untuk bersyukur, hormat dan berbakti kepada orang tuanya yang harus ditunaikan sang anak. Perintah untuk menyusui selama dua tahun sebagai sumber makanan terbaik untuk anak—sebagai bentuk nafkah di masa awal kehidupannya, juga berkontribusi untuk membantu perkembangan psikisnya. ASI juga memberikan daya immunitas agar anak terlindungi, memiliki ketahanan dan kekebalan dari berbagai penyakit.

Astronomi: Kondisi Fisik Bumi, Bulan, dan Matahari

Astronomi II








A. Kondisi Fisik Bumi, Bulan, dan Matahari


1. Matahari


Gambaran umum Matahari


Matahari adalah bintang kuning, berbentuk bola, dengan diameter 865.000 mi (1 mi = 1,609 km), lebih dari 100X diameter bumi.Salah satu bintang anggota galaksi Milky Way (Bima Sakti). Penting bagi proses kehidupan di Bumi karena mensuplai panas, cahaya, dan radiasi lain. Temperatur pusatnya diperkirakan 15 juta oC, berangsur-angsur turun hingga pada permukaan, yang disebut photosphere, temperaturnya
 6000 oC.


Matahari merupakan bintang yang merupakan benda angkasa terbesar dalam tata surya kita, yang berbentuk bola gas pijar, dan amat panas. Matahari terbagi atas tiga bagian: bagian angkasa matahari, permukaan matahari dan bagian dalam. Segala radiasi yang datang ke bumi berasal dari bagian angkasa matahari, dan mendapat sumber energinya dari reaksi termonuklir yang berlangsung di inti matahari. Bagian matahari yang bisa diamati secara langsung hanyalah bagian angkasa/atmosfer saja, yang terdiri atas tiga bagian:

Astronomi: Rotasi Bumi, Planet, dan Bulan

Astronomi I





Rotasi Bumi, Planet, dan Bulan



Bumi berputar; berotasi pada porosnya dengan arah rotasi dari barat ke timur. Inilah peredaran harian yang sebenarnya. Bumi berotasi dari barat ke timur, sehingga Indonesia selalu melihat matahari lebih dulu daripada India. Arah barat-timur sebenarnya hanya arah relatif terhadap arah poros bumi (http://famhar.multiply.com). Jika dilihat dari kutub utara gerakannya berlawanan dengan jalannya jarum jam, gerakannya disebut juga arah negatif. Waktu yang dibutuhkan dalam sekali berotasi adalah 23 jam 56 menit 4 detik. Ketika berotasi, Atmosfir yang menyelubungi Bumi ikut berotasi tapi gerakannya tidak mengikuti permukaan bumi. Hal ini dapat dianalogkan dengan peristiwa kita naik kereta api, jika kita mengeluarkan tangan di jendela maka kita merasakan hembusan angin. Hal ini karena udara yang ada di sekeliling kereta api itu tidak turut berotasi.