KESALAHAN-KESALAHAN DALAM PEMAHAMAN AL-QUR’AN: Dari Teori Darwin Sampai Penjelajahan Ruang Angkasa
Waktu Aliyah di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek dulu, zaman-zamannya sering jadi utusan untuk ikut MTQ cabang Fahmil Qur'an; baik antar sekolah, di kabupaten, maupun tingkat propinsi Sumatera Barat. Salah satu pertanyaan yang masih ane ingat sebutkan adalah bukti dalam al-Qur'an bahwa manusia itu bisa menjelajah ke luar angkasa. Jawabannya QS ar-Rahman/55: 33.
“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
Seiring waktu berjalan, ane sadar itu adalah pemahaman yangg keliru. Padahal al-Qur'an tidak bicara seperti itu, tapi lalu ayat itu disalahfahami dengan memehaminya sepenggal-sepenggal tidak utuh. Berikut ini bebrapa pemahaman yang salah dalam memahami kitab suci al-Qur’an yang ane tukipkan dari buku “Membumikan Al-Qur’an” karya M Quraish Shihab.
KESALAHAN-KESALAHAN DALAM PEMAHAMAN AL-QUR’AN: Dari Teori Darwin Sampai Penjelajahan Ruang Angkasa
Waktu Aliyah di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek dulu, zaman-zamannya sering jadi utusan untuk ikut MTQ cabang Fahmil Qur'an; baik antar sekolah, di kabupaten, maupun tingkat propinsi Sumatera Barat. Salah satu pertanyaan yang masih ane ingat sebutkan adalah bukti dalam al-Qur'an bahwa manusia itu bisa menjelajah ke luar angkasa. Jawabannya QS ar-Rahman/55: 33.
I. Teori Darwin
Kekeliruan sebagian cendekiawan Islam yang mengingkari teori evolusi Darwin (1804-1872) dengan beberapa ayat Al-Quran, atau mereka yang membenarkan dengan ayat-ayat lainnya. Memang, tak sedikit dari cendekiawan Islam yang mengakui kebenaran teori tersebut. Bahkan lima abad sebelum Charles Darwin, 'Abdurrahman Ibn Khaldun (1332-1406) menulis dalam kitabnya, Kitab Al-'Ibar fi Daiwani Al-Mubtada'i wa Al-Khabar (dalam mukadimah ke-6 pasal I) sebagai berikut:
"Alam binatang meluas sehingga bermacam-macam golongannya dan berakhir proses kejadiannya pada masa manusia yang mempunyai pikiran dan pandangan. Manusia meningkat dari alam kera yang hanya mempunyai kecakapan dan dapat mengetahui tetapi belum sampai pada tingkat menilik dan berpikir."
Yang dimaksud dengan kera oleh beliau ialah sejenis makhluk yang --oleh para penganut evolusionisme-- disebut Anthropoides. Ibnu Khaldun dan cendekiawan-cendekiawan lainnya, ketika mengatakan atau menemukan teori tersebut, bukannya merujuk kepada Al-Quran, tetapi berdasarkan penyelidikan dan penelitian mereka.

