Minggu, 12 Agustus 2012

Turaichan Adjhuri: Perumus Kalender Menara Kudus



Turaichan Adjhuri: Perumus Kalender Menara Kudus[1]






Abstrak
Salah satu legenda ahli ilmu falak Indonesia adalah KH Turaichan Adjhuri. Ia kyai sederhana yang mewarisi tradisi ilmu falak yang dikembangkan di dunia pesantren Indonesia. Meski beliau telah lama tiada, namun almanak Menara Kudus yang merupakan karya masterpiecenya; yang setelah beliau meninggal diteruskan oleh anaknya; tetap menjadi rujukan di tengah-tengah masyarakat.

Kata Kunci:  Turaichan Adjhuri, Kalender Menara Kudus, Ilmu Falak

Pendahuluan

11 Juni 1983 mungkin layak dicatat sebagai hari terburuk dalam sejarah astronomi Indonesia. Saat itu, gerhana matahari total menyapu wilayah Jawa dan Sumatera. Para astronom maupun peminat astronomi dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong datang ke Indonesia, untuk menyaksikan peristiwa langka yang mungkin hanya sekali seumur hidup mereka alami. Sebaliknya, kita di Indonesia, justeru diam ketakutan, mengurung diri di dalam rumah. Propaganda pemerintah mengenai bahaya menatap langsung gerhana matahari mampu membuat orang kehilangan akal sehat, lebih memilih untuk “menatap” gerhana lewat layar televisi ketimbang menyaksikan suasana saat gerhana dengan mata kepala sendiri.[2]
Namun dari kalangan ulama, terdapat seorang ahli ilmu Falak yang dengan tegas menentang pembodohan masyarakat tersebut. Dialah Turaichan Adjhuri, seorang ahli Falak yang berasal dari Kudus. Pada saat berlangsungnya peristiwa gerhana matahari total tersebut, beliau menyerukan kepada jamaah yang melaksanakan salat gerhana di masjid al-Aqsha Kudus untuk keluar masjid bersama-sama untuk menyaksikan keagungan Allah tersebut. Bisa ditebak kelanjutan kejadian tersebut, beliau lalu harus berurusan dengan aparat. Sebuah konsekuensi keteguhan seorang ulama dengan keyakinannya.



Biografi Intelektual Turaichan Adjhuri

Mbah Tur (panggilan akrab KH. Turaichan Adjhuri Es-Syarofi) lahir di  Kudus 22 Rabi’ul Akhir 1334 H/10 Maret 1915 M. Beliau lahir dari pasangan KH. Adjhuri dan Ibu Nyai Dewi Sukainah. [3] Semasa kecil menghabiskan waktunya untuk belajar, mengaji dan muthala’ah Kitab. Termasuk belajar falak yang ia tekuni secara auto didak, tapi ketika menemui kemusykilan/kesulitan atau tidak memahami sesuatu, beliau berkonsultasi dengan KH. Abdul Djalil (guru beliau). Selain itu, Mbah Tur dikenal sebagai anak yang cerdas, tegas, dan teliti. Karena ketelitiannya inilah, sosok yang juga pandai dalam bermain catur. Selain bermain catur, Mbah Tur juga sosok yang jago main Terbang Empat (rebana). [4]
Ada beberapa sumber yang menyebutkan, bahwa beliau masih keturunan Syaikh Ja’far Shadiq (Sunan Kudus). Menurut KH. Khoiruzzad, Mbah Tur memiliki hubungan dengan garis keturunan KH. Mutamakkin (Kajen), yang mempunyai keturunan Ulama-ulama besar, seperti KH R. Asnawi, Raden Hambali, dan KH. Sahal Mahfudz.[5] Dari lampiran nasab yang diberikan oleh KH. Rofiq Chadiq (keponakan dari KH. Turaichan), diketahui bahwa kakek KH. Turaichan Adjhuri  yang bernama KH. Achmad Rifa’i memiliki nasab sampai Sunan Kudus [6] dan Istri KH. Ahmad Rifa’i  yaitu Nyai Aminah (nenek KH. Turaichan) memiliki nasab sampai Syekh Achmad Mutamakkin (Kajen). Kedua silsilah tersebut didapat dari ibu beliau Dewi Sukainah (Istri dari KH.Adjhuri).[7]
Dalam pendidikan formal, beliau sekolah di Madarsah Taswiquththullab Salafi (TBS) Kudus, mulai tahun berdirinya 1928. Di antara guru beliau adalah KH. Abdullah Al Jufri, KH. Muhit, dan KH. Abdul Jalil Hamid yang waktu itu mengampu ilmu falak. Selain menimba ilmu di TBS Kudus, beliau juga ngaji “bandongan”[8] dengan beberapa kyai seperti: KH R. Asnawi, KH. Ma’sum bin Ali Kuaron dari Jombang (menantu KH. Hasyim Asy’ari), KH. Fauzan, KH. Ma’sum (ayah KH. Fauzan), KH. Muslim (kakak KH. Amin Said), dan masih banyak lagi guru-guru beliau yang lain. Dari KH. Abdul Jalil dan KH. Ma’sum bin Ali Kuaron inilah beliau mengenal ilmu falak, mengembangkannya sendiri dan membandingkannya dengan kitab-kitab ilmu falak lainnya seperti kitab al-Mathla’ as-Said.
Pada tahun 1942, ketika KH. Turaihan tepat berumur 27 tahun ia membangun rumah tangga dan menyunting seorang gadis bernama Masni`ah binti Marwan untuk dijadikan pendamping hidupnya. Dari pernikahannya dengan Nyai Masni`ah beliau dikaruniai 10 orang putera puteri.
Pada tahun 1969 untuk pertama kalinya beliau berangkat ibadah haji untuk pertama kalinya. Dan pada tahun 1992 beliau kembali berangkat haji ke tanah suci bersama puteranya yang bernama KH. Choirozad, dan ulama Kudus lainnya.
Begitu banyak jasa-jasa Mbah Tur bagi agama,  nusa, dan bangsa. Beliau telah pulang ke Rahmatullah pada malam Sabtu Pon 9 Jumadil Awal 1420 H/20 Agustus 1999 M dalam usia 84 tahun.[9] Jenajah beliau dikebumikan di dekat makam Sunan Kudus, dengan ribuan umat yang menghujani air mata di sepanjang Jalan Menara. Keranda yang membungkus jenazahnya seakan-akan berjalan sendiri hingga ke liang lahat karena ribuan pelayat yang menyesaki jalan tak memberi ruang gerak bagi para pengusung keranda. Keranda jenazah pun bergerak dari tangan santri ke tangan santri lain.[10]
Ia pergi meninggalkan Almanak Menara yang masih langgeng sampai sekarang. Ia meninggalkan empat anak dan mewariskan keahlian falak pada salah satu putranya yang bernama Sirril Wafa. Kyai itu juga meninggalkan dua santri kesayangan, yakni KH Noor Ahmad SS Kriyan di Jepara dan KH Ma’sum Rosyidi di Kudus.[11]


Perjuangan KH Turaichan Adjhuri

Berikut ini diutarakan kiprah dan perjuangan Mbah Tur dalam membina keberagamaan umat:
1.   Ketika masih berusia 14 tahun, Mbah Tur sudah mengajar terutama bidang ilmu Falak dan ilmu Faraidh di TBS Kudus. Selain itu, beliau juga mengajar di kediamannya, di masjid, dan di tempat-tempat pengajian lainnya. Setiap Sya’ban, beliau mengajar kitab-kitab yang beliau ajarkan di TBS (tapi belum khatam). Biasanya untuk kesempatan ini banyak santri-santri TBS mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Mereka datang berduyun-duyun untuk mengaji di kediaman beliau demi mengkhatamkan sebuah kitab. Bagi santri mengkhatamkan sebuah kitab langsung di bawah asuhan seorang ulama besar adalah suatu kebahagiaan dan keberuntungan yang tiada taranya. Dan untuk Bulan Ramadan, beliau mengajar kitab-kitab tertentu, seperti Kitab Adzkiya’, Irsyad al-‘Ibad, dan Hikam. Namun, sekitar tahun 1980-an, Mbah Tur lebih sering mengajar kitab-kitab tentang teologi, mulai dari yang besar, seperti Dasuqi sampai yang kecil seperti: Tuhfatul Murid.[12]
2.   Hingga menjelang akhir hayatnya pada 20 Agustus 1999, ia termasuk ulama yang sangat antusias mendukung undang-undang pencatatan nikah oleh negara yang telah berlaku sejak 1946. Kyai Turaichan sangat getol menentang praktik-praktik nikah siri atau di bawah tangan. Menurutnya, selama hukum pemerintah berpijak pada kemaslahatan umat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka wajib bagi seluruh umat Muslim yang menjadi warga negara Indonesia untuk menaatinya. Artinya, pelanggaran atas suatu peraturan (undang-undang) tersebut adalah juga dihukumi sebagai kemaksiatan terhadap Allah. Demikian pun menaatinya, berarti adalah menaati peraturan Allah.Hal inilah yang membuat kharisma dan kealiman Kyai Turaichan semakin diperhitungkan. Tak heran, bila namanya sangat masyhur sangat ahli ilmu falak yang sangat disegani.[13]
3.   Tak hanya dalam dunia pendidikan, Mbah Tur pun ikut andil di beberapa organisasi. Seperti halnya, aktif di Jajaran Nahdlatul Ulama (NU), menjadi anggota Mustasyar  dalam Muktamar NU, sebagai Tim Lajnah Falakiyyah NU, anggota panitia Ad Hoc pusat, dan juga sempat menjabat sebagai Rois Syuriah NU Cabang Kudus. Beliau merupakan salah seorang tim hisab rukyah Kemenag Pusat, merupakan salah satu kiprah beliau dalam mengharumkan nama kota Kudus. Selain itu, beliau juga sempat ditunjuknya sebagai qodli (hakim) di Kudus. Di dunia politik; menjadi anggota dewan konstituti mewakili NU yang kala itu menjadi parpol sekitar tahun 1955.[14]


Kalender Menara Kudus: Kalender Berdasarkan Hisab Hakiki Tahqiqi

Ketepatannya dan kepiawaian Mbah Tur dalam perhitungan ilmu falaknya tak diragukan lagi, mulai dari penentuan awal bulan Hijriah, adanya gerhana, dan dalam penerbitan almanak (Kalender). Reputasinya sebagai pakar ilmu falak sudah terdengar sejak zaman Jepang. Beliau seringkali di minta menghitung jatuhnya hari awal dan akhir Ramadan. Beliau kemudian terdorong untuk menyusun almanak yang sampai saat ini masih berjalan dan dimanfaatkan oleh khalayak ramai, tak hanya masyarakat Kudus, bahkan sampai ke penjuru tanah air; yakni almanak atau kalender Menara Kudus.[15]
Almanak Menara Kudus disusun KH Turaichan Adjhuri memakai hisab qath’i. Menurut penuturan Sirril Wafa data yang digunakan dalam perhitungan awal bulan Hijriyah oleh KH. Turaichan Adjhuri merupakan data yang berasal dari kitab al-Mathla’ as-Sa’id dan proses perhitungannya merujuk pada kitab al-Khulāshah al-Wafiyyah.[16]  Setelah beliau wafat, penyusunan almanak Menara Kudus saat ini diteruskan Sirril Wafa (putra bungsu Turaichan Adjhuri).[17]
Menurut KH Choirozyad (anak sulung Mbah Tur), mbah Tur  sangat produktif menyusun penanggalan. Lima tahun menjelang wafat, Turaichan masih mampu menyusun penanggalan untuk lima tahun ke depan. Sebelum meninggal dunia, ia telah mewariskan ilmunya ke Sirril Wafa. Kalender Menara Kudus diterbitkan pertama kali oleh Percetakan Masykuri Kudus pada tahun 1942 M/1361 H dan kemudian sejak 1950 M/1370 H sampai sekarang diterbitkan oleh Percetakan Kitab Menara Kudus.[18]
Pada tahun 1951M/1371 H penanggalan hasil karyanya telah menjadi rujukan bagi sebagaian besar warga Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia dan juga memberikan kontribusi positif bagi pemerintah khususnya dalam bidang penanggalan.[19]
Bukan hanya sekedar penanggalan biasa, banyak informasi yang termuat dalam almanak Menara Kudus. Informasi itu adalah:
1.   Selain penanggalan Masehi dan Hijriah, ia juga memberikan informasi Penanggalan Jawa (pranotowongso) dan hari pasarannya.
2.   Markaz perhitungan kalender Hijriahnya adalah Jawa Tengah.
3.   Memuat data-data perhitungan awal bulan Kamariah setiap bulannya.
4.   Terdapat data terjadinya peristiwa gerhana.
5.   Ada pula Jadwal Salat untuk kota Yogyakarta, Semarang, dan Sekitarnya.
6.   Menampilkan data tentang pengoreksian arah kiblat, yakni pada:
28 Mei pukul 16:18 WIB dan 16 Juli pukul 16:27 WIB. Saat itu matahari tepat di atas Ka’bah, bayang-bayang benda pada bidang yang datar saat itu tepat mengarah ke Ka’bah.[20]

 


Turaichan Adjhuri:  Potret Galilio Galilei Indonesia

Turaichan adalah Galileo Galilei Indonesia. Ia menjadi duri bagi stabilitas pemerintah dan ”diadili” pada 1990 karena menentukan waktu Idul Fitri yang berbeda dari Pemerintah. Ketegasan beliau dalam memutuskan suatu masalah, dapat dirasakan oleh banyak kalangan, seperti saat menetapkan masalah dalam munadhoroh menara atau dalam Muktamar NU. Begitu juga dalam penetapan awal Ramadlan dan Syawal. Banyak masyarakat yang menggunakan, berpegang, dan berpedoman pada keputusan beliau alih-alih mengikuti  keputusan pemerintah dalam pelaksanaan sidang isbat.[21]
Saat  gerhana matahari total menyapu wilayah Jawa dan Sumatera pada 11 Juni 1983. Pemerintah melakukan propaganda mengenai bahaya menatap langsung gerhana matahari. Propaganda tersebut akhirnya membuat orang kehilangan akal sehat, diliputi rasa ketakutan sehingga lebih memilih untuk “menatap” gerhana lewat layar televisi ketimbang menyaksikan suasana saat gerhana dengan mata kepala sendiri.[22]
Mbah Tur  menentang maklumat pemerintah tersebut dengan menganjurkan umat melihat gerhana dan mendirikan salat gerhana. Permasalahan seputar gerhana ini bagi umat Islam Indonesia pada priode itu belum begitu familiar. Pada  masa pemerintahan Orde Baru, umat Islam dilarang untuk melakukan pengamatan gerhana matahari total pada saat itu. Kesalahan dan kekurangfahaman ini menyebabkan dampak phsikologis ketakutan  masyarakat terhadap peristiwa gerhana.
Pada waktu terjadi peristiwa gerhana Matahari total tersebut, mbah Tur memberi pengumuman kepada umat Muslim di Kudus, bahwa gerhana Matahari total adalah fenomena alam yang tidak akan menimbulkan dampak (penyakit) apa pun bagi manusia jika ingin melihatnya, bahkan Allahlah yang memerintahkan untuk melihatnya secara langsung.
Pada hari terjadinya gerhana Matahari total di tahun tersebut, Kyai Turaichan  berpidato di Masjid al-Aqsha, menara Kudus. Di tengah-tengah pidato, ia mengajak jamaah untuk menyaksikan langsung gerhana tersebut.
''Wahai Saudara-saudara, jika kalian tidak percaya, maka buktikan. Sekarang peristiwa yang dikatakan menakutkan, sedang berlangsung. Silakan keluar dan buktikan, bahwa Allah tidak menciptakan bala atau musibah darinya. Silakan keluar dan saksikan secara langsung!'' Maka, para jamaah pun lantas berhamburan keluar, menengadah ke langit dan menyaksikan secara langsung dengan mata kepala telanjang terjadinya gerhana Matahari total. Setelah beberapa saat, para jamaah kembali ke tempatnya semula, dan Kyai Turaichan melanjutkan pidatonya. Dan faktanya, memang tidak terjadi apa-apa, termasuk musibah yang didengungkan oleh pemerintah. Namun karena keberaniannya ini, Kyai Turaichan harus berhadapan dan mempertanggungjawabkan tindakannya di depan aparat negara yang represif waktu itu.
[23]
Turaichan adalah kisah kecil dari pembangkangan kaum astronom terhadap penguasa yang melakukan intervensi terhadap dunia ilmu pengetahuan. Kisah besarnya adalah Galileo Galilei (1564 -1642)[24]  yang terpenjara di Kota Arcetri, Italia, pada 1632 karena menebar madzab heliosentrisme--bahwa matahari adalah pusat semesta alam--seperti ditulisnya dalam Script Dialogue. Ia subversif terhadap doktrin gereja di bawah otoritas Paus Urbanus yang geosentrisme--bahwa bumilah pusat semesta alam. Jika Galileo penyokong Copernicus, Turaichan adalah penyokong Syekh Husein Zaid al-Misra, pengarang kitab Al-Mathla’ul Sa’id dari Mesir yang banyak memengaruhi pemikirannya.[25]
Gambar 1
Galileo Galile dan Turaichan Adjhuri







           Galileo Galile 

dan      Turaichan Adjhuri


Penemuan teleskop dan serentetan penemuan lainnya menaikkan bintang Galileo ke atas tangga kemasyhuran. Sementara itu, dukungannya terhadap teori Copernicus menyebabkan dia berhadapan dengan kalangan gereja yang menentangnya habis-habisan. Pertentangan gereja ini mencapai puncaknya di tahun 1616; dia diperintahkan menahan diri dari menyebarkan hipotesa Copernicus. Galileo merasa tergencet dengan pembatasan ini selama bertahun-tahun. Galileo menghabiskan waktu menyusun karya ilmiahnya yang penting: Dialog Tentang Dua Sistem Penting Dunia. Buku ini merupakan peragaan hebat hal-hal yang menyangkut dukungan terhadap teori Copernicus dan buku ini diterbitkan dengan ijin sensor khusus dari gereja. Meskipun begitu, penguasa-penguasa gereja menanggapi dengan sikap berang tatkala buku terbit dan Galileo langsung diseret ke muka Pengadilan Agama di Roma dengan tuduhan melanggar larangan tahun 1616.[26]
Tetapi jelas, banyak pembesar-pembesar gereja tidak senang dengan keputusan menghukum seorang sarjana kenamaan. Bahkan dibawah hukum gereja saat itu, kasus Galileo dipertanyakan dan dia cuma dijatuhi hukuman enteng. Galileo tidak dijebloskan ke dalam bui tetapi sekedar kena tahanan rumah di rumahnya sendiri yang cukup enak di sebuah villa di Arcetri.[27]

Kontribusi Turaichan Adjhuri bagi Perkembangan Ilmu Falak di Indonesia

Tiap menjelang Ramadan ia berdiri di pesisir pantai mengintip bulan pada saat matahari di ufuk barat terbenam. Hasil pengamatan tersebut selanjutnya menjadi landasan dalam mengeluarkan fatwa dalam penentuan awal Ramadan bagi Nahdliyin.[28]
Pada tahun 1985, KH. Turaihan mendorong salah seorang muridnya yang ikut mengajar di Madrasah TBS yaitu Kyai Abu Saiful Mujab Noor Ahmad Ibn Shidiq Ibn Saryani untuk mengkodifikasikan semua ilmu Falak yang telah beliau ajarkan kepadanya dalam bentuk sebuah karya yang sesuai dengan perkembangan zaman modern. Akhirnya pada tahun 1986, lewat tangan muridnya itu terbitlah buku-buku diktat pengajaran ilmu Falak yang merupakan buah ilmu yang telah diajarkan oleh KH. Turaihan. Buku diktat itu langsung dilihat dan diperiksa oleh KH. Turaihan setelah sebelumnya terlebih dahulu di periksa dan ditashhih oleh Ustadz Ahmad Rofiq yang juga murid KH. Turaihan. Melihat terbitnya buku-buku itu, KH. Turaihan merasa lega dan ia merasa tidak perlu lagi menulis karya dalam ilmu Falak, sebab tulisan muridnya yang merangkum semua yang telah dia ajarkan sudah dirasa cukup.[29]

Catatan Akhir
  1. Turaichan Adjhuri mencoba menyadarkan umat Islam  Indonesia pada saat terjadinya Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983 bahwa gerhana matahari adalah peristiwa astronomi biasa yang tidak perlu ditakuti. Dan banyak pelajaran penting dan berharga yang bisa dipetik dibalik peristiwa tersebut. Manfaatkan kesempatan momen gerhana ini, untuk pendidikan anak mempelajari sains tentang gerhana, fenomena alam menakjubkan yang memuat tantangan intelektualitas manusia yang memikirkannya.[30] Allah berfirman dalam surat Al-Furqan/ 25 ayat 45 dan 46 berikut:
Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau dia menghendaki niscaya dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, Kemudian kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu. Kemudian kami menarik bayang-bayang itu kepada kami dengan tarikkan yang perlahan-lahan.


  1. Pada bagian bawah dan bagian belakang Kalender Menara Kudus terdapat Jadwal Salat untuk kota Yogyakarta, Semarang, dan Sekitarnya. Terdapat beberapa catatan untuk jadwal salat tersebut:
a.       Penjadwalan yang sama awal waktu salat untuk daerah Semarang dan Yogyakarta dirasakan kurang akurat secara ilmu Falak. Hal ini karena keduanya adalah dua kota yang berjauhan letaknya. Semarang terletak di jalur Pantura sedang Yogyakarta di daerah bagian selatan pulau Jawa. Berikut koordinat kedua daerah tersebut: Semarang Φ -7° 00’ LS     λ110°  24’BT [31] Yogyakarta Φ -7° 48’ LS     λ110°  21’BT [32] karena kedua kota tersebut terletak pada koordinat lintang dan bujur yang berbeda. Potensi kurang akurat terhadap jadwal yang dihasilkan misalnya dalam perhitungan awal waktu salat Zuhur (yang selalu dijadikan patokan bagi perhitungan waktu-waktu salat yang lain pada hari yang sama) terdapat perhitungan KWD (koreksi waktu daerah) diperlukan data bujur tempat (λ). Selanjutnya dalam perhitungan sudut waktu matahari awal waktu salat menggunakan/memperhitungkan lintang tempat (Φ) kecuali untuk perhitungan awal Zuhur. Dengan demikian perbedaan lintang dan bujur tempat akan berpengaruh terhadap hasil perhitungan jadwal salat yang dihisab. Dapat dikatakan perbedaan bujur dan lintang tempat berpotensi menghasilkan jadwal salat berbeda/ tidak sama.
b.      Dalam jadwal salat untuk kota Yogyakarta, Semarang, dan Sekitarnya itu terdapat koreksian daerah[33] sebagai berikut:
Jakarta +14, Bandung +11, Cirebon +7, Serang +17, Banten +16, Anyer +18, Bandar Lampung +20, Brebes +6, Kudus/Solo -2, Surabaya -10, Banyuwangi -16, Sumenep -14, Pasuruan -10, Situbondo -14, Kediri -6, Blora -4, Gresik    -9, dan Malang -9. [34]
Koreksi daerah  yang biasanya dinyatakan bahwa perbedaan 1° bujur daerah dikonversi sama dengan perbedaan 4 menit untuk koreksian. Daerah yang berada di sebelah Timur kota yang dijadikan patokan koreksiannya dikurangkan sedang yang di sebelah Barat kota yang dijadikan patokan koreksiannya ditambahkan. Koreksian daerah ini tidak memperhitungan perbedaan lintang tempat dan juga ketinggian tempat. Penggunaan koreksian daerah ini hanya bisa digunakan untuk perhitungan awal waktu zuhur saja untuk daerah yang memiliki lintang yang sama dan hanya berbeda bujurnya. Untuk perhitungan waktu salat yang lainnya dianggap kurang atau tidak akurat. Berdasarkan hal ini penggunaan hasil perhitungan awal waktu salat berdasarkan koreksian daerah ini diperselisihkan/dipermasalahkan oleh kalangan ahli Falak. Dengan demikian jadwal salat yang akurat harus berdasarkan hasil perhitungan yang ril untuk daerah/ kota tersebut.
  1. Kalender Menara Kudus juga menyajikan data tentang pengoreksian arah kiblat, yakni pada 28 Mei pukul 16:18 WIB dan 16 Juli pukul 16:27 WIB. Saat itu matahari tepat di atas Ka’bah, bayang-bayang benda pada bidang yang datar saat itu tepat mengarah ke Ka’bah.[35] Pernyataan tersebut perlu diklarifikasi sebagai berikut:
a.       Beberapa ahli Falak lain seperti KH Slamet Hambali dan Ahmad Izzuddin sebagaimana yang terdapat pada jadwal salat yang mereka keluarkan bersama menyatakan bahwa yaum rashd al-qiblah itu dinyatakan suatu hari yang pada hari tersebut matahari tepat berada di atas Ka’bah.[36] Ini sebagaimana juga dalam press release arah kiblat yang pernah dikeluarkan oleh Kemenag.[37] Ada baiknya pernyataan ini diklarifikasi terlebih dahulu dengan data-data ephimeris matahari pada saat itu. Jika kita mengecek tentang data matahari pada saat yaum rashd al-qiblah, data yang diperoleh tidak eksak menunjukkan bahwa deklinasi matahari pada saat itu sama dengan lintang Ka’bah. Misalnya jika kita melakukan pengecekan dengan program Mawaaqit versi 2001 (karya Khafid) dinyatakan sebagai berikut:
1)      Pada tanggal 28 Mei data δ (deklinasi matahari) pada jam 12:18 adalah 21° 28’ 12,2”. Adapun data lintang Ka’bah  adalah 21° 25’LU. Dengan demikian pada saat yaum rashd al-qiblah pada tanggal 28 Mei itu posisi matahari tidak tepat berada di atas Ka’bah tapi berada di utara Ka’bah. Tapi posisi matahari masih berada di sekitar kota Mekah.
2)      Pada  tanggal 16 Juli δ matahari pada jam 12:27 adalah 21° 20’. Adapun data  lintang Ka’bah adalah 21° 25’. Demikian juga hampir sama dengan kondisi pada tanggal 28 Mei di atas, pada tanggal 16 Juni ini pun posisi matahari tidak tepat berada di atas Ka’bah tapi berada di selatan Ka’bah. Tapi posisi matahari masih berada di sekitar kota Mekah.

Dari deklinasi matahari yang diperoleh di atas nyatalah bahwa matahari pada saat yaum rashd al-qiblat tidak tepat berada di atas Ka’bah tapi lebih tepat kalau dinyatakan berada di atas kota Mekah. Ini sesuai dengan pernyataan T Djamaluddin.[38] Sehingga bayangan yang terbentuk pada saat itu mengarah ke kota Mekah; kota di mana tempat berdirinya Masjid al-Haram yang di dalamnya terdapat bangunan Ka’bah.
Pelaksanaan Yaum Rashd al-Qiblah pada tahun-tahun Kabisat [39], untuk bulan-bulan setelah bulan Februari ditambahkan satu hari. Sehingga dapat dinyatakan bahwa Yaum Rashd al-Qiblah itu menjadi tanggal  29  Mei dan 17  Juli.

Penutup

Turaichan merupakan potret ulama yang teguh dalam mempertahankan keyakinannya. Turaichan merupakan satu dari segelintir ulama yang tetap teguh dengan pendapatnya tentang suatu kebenaran yang diyakininya walaupun harus berseberangan pendapat dengan rezim penguasa.
Demikianlah biografi, perjuangan, dan buah fikiran Turaichan Adjhuri. Sebagai seorang ahli Falak, beliau telah memberikan kontribusi terbaiknya bagi masyarakat Kudus dan umat Islam Indonesia secara umum. Wallahu a’lamu bi ash-shawab.

 

Daftar Pustaka


Azhari, Susiknan,  Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet.ke-2, 2008


Djamaluddin, T , Penyempurnaan Arah Kiblat dari Bayangan Matahari, Makalah Perkuliahan Astronomi, PPs IAIN Wali Songo Semarang, 26 Mei 2009

Effendi, Djamhur, Sekelumit Penanggalan Komariah dan Gerhana Bulan,  http://www.nu.or.id diakses pada tanggal 3 Maret 2011



Hart, Michael H., 13. GALILEO GALILEI 1564-1642, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Terjemahan Mahbub Djunaidi, Jakarta:  PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982, http://media.isnet.org/iptek/100/Galileo.html

Jadwal Salat untuk kota Semarang dan Sekitarnya, Hasib KH Slamet Hambali dan Ahmad Izzuddin

Jamil, A,  Ilmu Falak (Teori & Apikasi), Jakarta: Amzah, 2009, cet.ke-1

Kalender Menara Kudus tahun 2011M/1432H

Khazin, Muhyiddin,  Kamus Ilmu Falak, Jogjakarta : Buana Pustaka, 2005

KH. Turaichan Adjhuri Es Syarofi, http://www.arwaniyyah.com/
                          
KH Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi: Guru Para Ahli Falak di Indonesia,  http://www.republika.co.id/berita/94531/KH_Turaichan_Adjhuri_Asy_Syarofi_Guru_Para_Ahli_Falak_di_Indonesia

KH. Turaihan Adjhuri Es Syarofi, http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task=view&id=181

Murtadho, Moh, Ilmu Falak Praktis, Malang: UIN Malang Press, 2008, cet.ke1 

Mujab, Sayful, Konsep Penentuan Awal Bulan Hijriyah Menurut KH. Turaichan Adjhuri, Tesis Program Magister IAIN Walisongo, 2010

Press Release Arah Kiblat,  12 Jumadal Akhirah 1431 H/  26 Mei 2010 M, www.depag.go.id diakses pada tanggal 1 Juni 2010

Samarani, as,  Zacky, KH Turaichan Adjuhri (rh); Ahli Falak dari Kudus, http://blogcasa.wordpress.com/

Sistem almanak Masjid Menara Kudus Awal Ramadan sama, Lebaran bisa beda, http://www.wawasandigital.com/



















[1] Jayusman, Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Lampung, http://jayusmanfalak.blogspot.com dan email: jay_falak@yahoo.co.id.
[3] Susiknan Azhari,  Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet.ke-2, 2008, h. 220.
[4] KH. Turaichan Adjhuri Es Syarofi, http://www.arwaniyyah.com/ diakses pada tanggal 15 November 2011
[5] Ibid
[6] Berikut data nasab dari KH. Achmad Turaichan Adjhuri Es Syarofi sampai  Sunan Kudus
1.       Dewi Sukainah (istri dari KH. Adjhuri)
2.       KH. Syarafuddin
3.       KH. Ahmad Rifa’I (suami dari Nyai Aminah)
4.       KH. Sya’auddin
5.       KH. Jamaluddin
6.       KH. Mas Nuruddin
7.       Raden Jili Arum II
8.       Ratu Kalinyamat
9.       Raden Busthom
10.    Raden Jili Arum I
11.    Raden Washi
12.    Raden Jili
13.    Panembahan Qodli
14.    Sunan Kudus lih. Sayful  Mujab, Konsep Penentuan Awal Bulan Hijriyah Menurut KH. Turaichan Adjhuri, Tesis Program Magister IAIN Walisongo, 2010, h. 58-59
[7] Silsilah KH. Turaichan Adjhuri dari Mbah Mutamakin Kajen yaitu:
1.      Dewi Sukainah (istri dari KH. Adjhuri)
2.      KH. Syarafuddin
3.      Nyai Aminah (istri dari KH. Ahmad Rifa’i)
4.      KH. Asnawi Imam
5.      Nyai Jiroh
6.      Nyai Alfiyyah (Nyi Godek)
7.      Nyai Dulang Mas
8.      Syekh Ahmad Mutamakin (Kajen)  lebih lanjut lih Ibid, h. 59
[8] Mengaji pada seorang Kyai atau guru secara menetap beberapa waktu sampai pelajaran yang diajarkan dianggap tuntas atau selesai dipelajari.
[9] KH. Turaichan,  http://www.arwaniyyah.com/, loc,cit
[10] Zacky as-Samarani, KH Turaichan Adjuhri (rh); Ahli Falak dari Kudus, http://blogcasa.wordpress.com/ diakses pada tanggal 15 November 2011
[11] Ibid
[12] KH. Turaichan, http://www.arwaniyyah.com/ , loc.cit
[13] KH Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi: Guru Para Ahli Falak di Indonesia,  http://www.republika.co.id/berita/94531/KH_Turaichan_Adjhuri_Asy_Syarofi_Guru_Para_Ahli_Falak_di_Indonesia diakses pada tanggal 15 November 2011
[14] KH. Turaichan, http://www.arwaniyyah.com/ , loc.cit
[15] Ibid dan Muhyiddin Khazin, Kamus Ilmu Falak, Jogjakarta: Buana Pustaka, 2005. H. 116-117
[16] Mujab, op.cit, h. 64
[17] Ia menjadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sebagai hasib kalender Menara Kudus, ia menggunakan nama Ibnu H. Tajus Syarof (Ibnu H. Turaichan Adjhuri es Syarofi) Kudus.
[18] Lihat Muhyiddin Khazin, loc.cit
[19] Lihat Muhyiddin Khazin, loc.cit
[20] Kalender Menara Kudus tahun 2011M/1432H
[21] KH. Turaichan, http://www.arwaniyyah.com/ , loc.cit
[24] Galileo Galilei lahir pada 15 Februari 1564 di Pisa. Pada 1609 Galileo mempelajari penemuan teleskop di Belanda. Dari uraian paling sederhana ia membangun model jauh lebih unggul. Galileo membuat serangkaian penemuan yang mendalam menggunakan teleskop baru, termasuk bulan-bulan planet Jupiter dan fase planet Venus (mirip dengan bulan Bumi). ia terkena sebuah teori baru, diusulkan oleh Nicolaus Copernicus , bahwa bumi dan semua planet lainnya berputar mengelilingi matahari. Pengamatan Galileo dengan teleskop baru meyakinkannya akan kebenaran teori Copernicus yang matahari-tengah atau heliosentris. Pada 1633 Inkuisisi menghukum dia bidah dan memaksanya untuk menarik kembali (publik menarik) dukungannya Copernicus. Mereka menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup, tetapi karena usia lanjut itu memungkinkan dia melayani jangka di bawah tahanan rumah di vilanya di Arcetri luar Florence. Galileo meninggal di Arcetri pada 1642. Galileo Galilei, Astronom dan Fisikawan, 1564 -1642, http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.lucidcafe.com/library/96feb/galileo.html diakses pada tanggal 15 November 2011
[25] Zacky as-Samarani, KH Turaichan Adjuhri (rh); Ahli Falak dari Kudus, http://blogcasa.wordpress.com/ diakses pada tanggal 15 November 2011
[26] Michael H. Hart, 13. GALILEO GALILEI 1564-1642, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Terjemahan Mahbub Djunaidi, Jakarta:  PT. Dunia Pustaka Jaya, 1982, http://media.isnet.org/iptek/100/Galileo.html diakses pada tanggal 15 November 2011
[27] Ibid
[28] Zacky as-Samarani, loc.cit
[29] KH. Turaihan Adjhuri Es Syarofi, http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task=view&id=181 diakses pada tanggal 15 November 2011
[30] Djamhur Effendi, Sekelumit Penanggalan Komariah dan Gerhana Bulan,  http://www.nu.or.id diakses pada tanggal 3 Maret 2011
[31] Muhyiddin Khazin, Kamus Ilmu Falak, Yogya Karta: Buana Pustaka, 2005, cet.ke-1, h. 203, Moh.  Murtadho, Ilmu Falak Praktis, Malang: UIN Malang Press, 2008, cet.ke1, h. 339, dan A Jamil, Ilmu Falak (Teori & Apikasi), Jakarta: Amzah, 2009, cet.ke-1, h. 175.
[32] Muhyiddin, op.cit, h. 220
[33] Koreksian daerah adalah koreksi waktu berupa  penambahan atau pengurangannya dalam  menit sebagai bentuk penyesuaian apabila jadwal salat ataupun Imsakiah tersebut digunakan di daerah atau kota lain (di luar peruntukannya).
[34] Kalender Menara Kudus tahun 2011M/1432H
[35] Ibid
[36] Jadwal Salat untuk kota Semarang dan Sekitarnya, Hasib KH Slamet Hambali dan Ahmad Izzuddin

[37] Press Release Arah Kiblat,  12 Jumadal Akhirah 1431 H/  26 Mei 2010 M, www.depag.go.id diakses pada tanggal 1 Juni 2010

[38] Djamaluddin, T , Penyempurnaan Arah Kiblat dari Bayangan Matahari, Makalah Perkuliahan Astronomi, PPs IAIN Wali Songo Semarang, 26 Mei 2009
[39] Tahun yang habis dibagi 4 tahun 2004, dan 2008, adapun untuk tahun abad habis dibagi 400 seperti tahun 2000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar