Rabu, 20 Januari 2010

KH Noor Ahmad SS: Potret Dinamis Perkembangan Ilmu Falak di Indonesia

KH Noor Ahmad SS: Potret Dinamis Perkembangan Ilmu Falak di Indonesia[1]










Abstrak
Tidak banyak ulama yang berkhidmad terhadap ilmu Falak. Di antara ulama tradisional Indonesia yang mencurahkan segenap waktu dan fikiran di sepanjang hayatnya untuk mendalami ilmu Falak adalah KH Noor Ahmad SS yang berasal dari Kriyan, Kalinyamatan-Jepara. Ketika awal mempelajari ilmu Falak tahun 1950an yang berkembang ketika itu adalah metode hisab yang berbasiskan perhitungan Hakiki Taqribi. Pada priode selanjutnya sesuai dengan perkembangan pengetahuan tentang ilmu Falak, berkembang perhitungan Hakiki Tahqiqi. Karya-karyanya yang dihasilkannya pun menggambarkan pengembaraan intelektualnya tersebut.

Kata Kunci: KH Noor Ahmad SS, Ilmu Falak,



Pendahuluan
Sejarah perkembangan ilmu Falak di Indonesia bersifat dinamis. Saat dunia Islam memasuki priode modernnya pada awal abad ke-20, ilmu Falak pun bersentuhan dengan kemoderenan; ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat.
Teori-teori lama yang sudah out of date mulai ditinggalkan digantikan dengan penemuan baru yang lebih sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu Falak sebagai bagian sains yang berkembang di kalangan umat Islam mengalami hal sama.
Dalam perhitungan awal bulan Kamariah misalnya, sebelum abad ke-20, di dunia Islam umumnya berkembang berkembang metode hisab yang belakangan diidentifikasi sebagai metode hisab Hakiki Taqribi. Perhitungannya masih berpatokan pada asumsi Bumi sebagai pusat peredaran Bulan dan Matahari; yang disebut dengan Geosentris.
Perhitungan awal bulan yang dilakukan menggunakan tabel-tabel astronomi yang dirumuskan oleh  Ulugh Beik (w. 1449 M) yang biasanya disebut Zeij Sulthani. Tabel astronomi Ulugh Beik ini merupakan penemuan yang sangat berharga pada masanya. Tabel ini telah digunakan bahkan juga oleh para astronom di Barat selama berabad-abad lamanya.
Setelah Nicolas Copernicus menemukan teori Heliosentris, bahwa Mataharilah pusat tata surya kita (bukan Bumi sebagaimana yang diyakini sebelumnya). Penemuan ini tentu saja akan berpengaruh terhadap metode dan rumus ilmu Falak atau astronomi yang selama ini digunakan. Pembaharuan yang digulirkan inipun kemudian sampai ke Indonesia. Diperkirakan sampai ke Indonesia pada pertengahan abad ke-20. Pelopornya adalah dua buah kitab yakni kitab Mathla’ as-Sa’id fi Hisab al-Kawakib ‘ala Rashd al-Jadid karangan Husen Zaid al-Mishra dan al-Manahij al-Hamidiyah karangan Abd al-Hamid Mursy Ghais al-Falaki asy-Syafi’i. Kedua kitab tersebut oleh mereka yang menunaikan ibadah haji dan lalu menyempatkan diri untuk belajar di tanah suci. Metode baru ini dikemudian hari disebut dengan metode Hakiki Tahqiqi.
Perlu juga dinyatakan di sini bahwa dalam perkembangan ilmu Falak di Indonesia tidak bersifat linier antara perkembangan sains dengan realita yang terjadi pada masa itu. Dengan asumsi bahwa pada pertengahan abad ke-20 metode hisab Hakiki Tahqiqi akan berkembang dengan pesat menggantikan teori lama yang telah gugur secara ilmiah; dan metode hisab Hakiki Taqribi mulai ditinggalkan orang. Tapi kenyataannya tidak seperti demikian. Metode hisab Hakiki Tahqiqi mulai dipelajari orang sedangkan metode hisab Hakiki Taqribi tetap memiliki pengikut fanatiknya bahkan sampai dengan sekarang ini.
Pada akhir abad ke-20 telah banyak para sarjana muslim yang pakar di bidang astronomi. Mereka telah berhasil merumuskan metode hisab yang memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Dalam ilmu Falak diistilahkan dengan metode hisab Hakiki Kontemporer.
Dalam makalah ini akan dikaji lebih lanjut kiprah salah seorang ahli Falak yakni KH Noor Ahmad SS. Ia adalah salah seorang ahli ilmu Falak dari kalangan Nahdatul Ulama yang mumpuni. Ia mengalami dinamika ketiga priode modern perkembangan ilmu Falak di Indonesia tersebut. Akan dibahas bagaimana karya-karya yang dihasilkannya bermetamorfosis dari yang basis metode hisab Hakiki Taqribi lalu beralih metode hisab Hakiki Tahqiqi. Selanjutnya berhadapan dengan metode hisab Hakiki Kontemporer.

Sejarah Perkembangan Ilmu Falak di Indonesia

Dalam sejarah perkembangan modern ilmu Falak di Indonesia pada awal abad ke 20, ditandai dengan penulisan kitab-kitab ilmu Falak oleh para ulama ahli Falak Indonesia. Seiring kembalinya para ulama yang telah berguru di Mekah pada awal abad kedua puluh, ilmu Falak mulai tumbuh dan berkembang di tanah air. Ketika berguru di tanah suci, mereka tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu agama seperti: tafsir, hadis, fiqh, tauhid, tasawuf, dan pemikiran yang mendorong umat Islam yang pada masa itu rata-rata di bawah belenggu kolonialisme untuk membebaskan diri, melainkan juga membawa catatan tentang ilmu Falak. Kemudian proses transfer knowledge ini berlanjut kepada para murid mereka di tanah air[2].
Pada dekade itu misalnya, Syekh Abdurrahman ibn Ahmad al-Mishra pada tahun 1314H/1896M datang ke Betawi. Ia membawa Zeij (tabel astronomi) Ulugh Beik (w. 1449 M) yang berdasarkan teori Geosentris. Ia kemudian mengajarkannya pada para ulama di Betawi pada waktu itu. Di antara muridnya adalah Ahmad Dahlan as-Simarani atau at-Tarmasi (w. 1329H/1911M) dan Habib Usman ibn Abdillah ibn ‘Aqil ibn Yahya yang dikenal dengan Mufti Betawi.
Lalu Ahmad Dahlan as-Simarani atau at-Tarmasi mengajarkannya di daerah Termas (Pacitan)  dengan menyusun buku Tazkirah al-Ikhwan fi Ba’dhi Tawarikhi A’mal al-Falakiyati bi Semarang. Sedang Habib Usman ibn Abdillah ibn ‘Aqil ibn Yahya tetap mengajar di Betawi. Ia menulis buku Iqazhu an-Niyam fi ma Yata’allaq bi ahillah wa ash-Shiyam. Buku ini di samping memuat masalah ilmu Falak, juga terdapat di dalamnya tentang masalah puasa[3]. Adapun pemikirannya tentang ilmu Falak kemudian dibukukan oleh salah seorang muridnya Muhammad Manshur bin Abdul Hamid bin Muhammad Damiri bin Muhammad Habib bin Abdul Muhit bin Tumenggung Tjakra Jaya yang menulis kitab Sullamun Nayyiran. Itulah kitab-kitab yang dihasilkan oleh ulama Falak nusantara pada priode awal ini.
Pada priode kedua, ditandai dengan kuatnya  pengaruh kitab Mathla’ as-Sa’id fi Hisab al-Kawakib ‘ala Rashd al-Jadid karangan Husen Zaid al-Mishra dan al-Manahij al-Hamidiyah karangan Abd al-Hamid Mursy Ghais al-Falaki asy-Syafi’i. Menurut M. Taufik  bahwa kitab ilmu Falak yang ditulis oleh ulama Falak nusantara pada priode kedua ini banyak yang merupakan cangkokan dari kedua kitab tersebut. Di antara kitab-kitab karangan ulama Nusantara tersebut adalah kitab al-Khulashah al-Wafiyah karya Zubair Umar al-Jailani, Hisab Hakiki karya K Wardan Dipo Ningrat, al-Qawa’id al-Falakiyah karya Abd al-Fatah as-Sayyid ath-Thufi al-Falaki, Nur al-Anwar karya Noor Ahmad SS, dan Badi’ah al-Mitsal karya Ma’shum Jombang[4].
Masih banyak lagi kitab-kitab ilmu Falak karya para ulama Indonesia, yang selain menjadikan  al-Mathla’ as-Sa’id fi Hisbah al-Kawakib ‘Ala Rasd al-Jadid dan al-Manahij al-Hamidiyah sebagai rujukan utamanya juga merujuk karya ulama Indonesia sebelum mereka (yang telah mempelajari dan mencangkok kitab al-Mathla’ as-Sa’id fi Hisbah al-Kawakib ‘Ala Rasd al-Jadid dan al-Manahij al-Hamidiyah),--yang merupakan guru mereka sendiri ataupun guru dari guru mereka. Di antaranya adalah Almanak Menara Kudus karya Turaikhan Adjhuri, Nur al-Anwar karya Noor Ahmad SS Jepara, al-Maksuf karya Ahmad Soleh Mahmud Jauhari Cirebon, Ittifaq Dzat al-Bain karya Muhammad Zuber Abdul Abdul Karim Gresik.


Biografi Intelektual KH Noor Ahmad SS

KH Noor Ahmad SS lahir di Jepara pada hari kamis Kliwon 14 Desember 1932 M/ 19 Rajab 1351 H. Ia adalah satu di antara ulama ahli ilmu Falak yang disegani di Indonesia yang masih hidup hingga saat ini. Pendidikan pesantren yang pernah dienyam antara lain di Tebu Ireng Jombang, Langitan Babat Lamongan, dan Lasem[5]
Guru-gurunya adalah KH Rif’an Kudus, KH Turaichan Adjhuri (Menara Kudus), KH Abdul Jalil (guru dari KH Turaikhan Adjhuri), KH Zubaer Umar al-Jailani (pengarang kitab al-Khulashah al-Wafiyah), H. Abdur Rohim (Murid Sa’adoeddin Djambek), dan KH Misbahul Munir Magelang.
Menurut penulis pengertian guru di sini adalah tidak semata-mata guru dengan pengertian belajar secara langsung atau formal kepada yang bersangkutan. Namun dapat juga berarti berguru secara “tidak langsung”, sebagai teman berdiskusi dalam masalah ilmu Falak atau bahkan sebagai suatu penghormatan kepada seseorang yang diakui ketinggian dan kedalaman ilmunya dengan menganggapnya sebagai guru. Misalnya ada pendapat yang menyatakan KH Noor Ahmad SS berguru kepada H. Abdur Rachim, pada hal menurut penuturannya, ia pernah hanya bertemu dengan H. Abdur Rachim dan sempat berbincang-bincang dengannya[6]. Namun tidak ada pernyataan pernah berguru kepadanya.
Karyanya antara lain kitab-kitab ilmu Falak yang pernah ditulis adalah:  Taufiq  ar-Rahman, Syawariq al-Anwar, Syams al-Hilal, dan Nur al-Anwar. Dalam kitab-kitab yang dikarangnya, ia menggunakan nama Abu Sayf al-Mujab Noor Ahmad ibn Shiddiq ibn Saryani.
Ia juga menulis artikel atau tulisan yang dipresentasikan pada seminar atau pertemuan  yang pernah diikutinya yang antara lain: Cara Rukyat yang Akurat, Efektifitas Rukyatul Hilal dengan Hisab Hakiki Taqribi, Sistem Hisab Nur al-Anwar dan Fath Ra’uf al-Mannan, Hisab dan Kedudukannya dalam Ibadah Muaqqat, Upaya Menyatukan Visi Terhadap Peristiwa Bersejarah Menurut Hisab Nur al-Anwar, dan Hisab Awal Bulan Hijriah.

Metode Hisab Urfi dan Hakiki
Dalam sistem  hisab Urfi berdasarkan pada perhitungan rata-rata dari peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Perhitungan secara Urfi ini bersifat tetap, umur bulan itu tetap setiap bulannya. Bulan yang ganjil; gasal berumur tiga puluh hari sedangkan bulan yang genap berumur dua puluh sembilan hari. Dengan demikian bulan Ramadan sebagai bulan kesembilan (ganjil) selamanya akan berumur tiga puluh hari.[7]
Biasanya untuk memudahkan dan kepentingan praktis perhitungan dalam pembuatan kalender Kamariah dibuat secara Urfi. Kalender Kamariah Urfi didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi dalam orbitnya dengan masa 29 hari, 12 jam, 44 menit, 2,8 detik  setiap satu bulannya. Rentang waktu tersebut adalah rentang waktu dari konjungsi (ijtima’) ke konjungsi berikutnya. Dengan perkataan lain, rentang waktu antara posisi titik pusat Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada bidang kutub ekliptika yang sama. Rentang waktu itu disebut dengan bulan/month. Dengan demikian, perhitungan kalender Kamariah di mulai dari menghitung  awal bulan atau bulan baru/ new month.[8] 
Kalender ini terdiri 12 bulan, dengan masa satu tahun 354 hari, 8 jam, 48 menit, 35 detik. Itu berarti lebih pendek 10 hari, 21 jam (sekitar 11 hari) dibanding dengan kalender Masehi dalam setiap tiga puluh tahunnya.
Masa satu tahun sama dengan 354 hari, 8 jam, 48 menit, 35 detik yang kalau kita sederhanakan dapat dikatakan bahwa satu tahun itu sama dengan 354 11/30 hari.  Dalam siklus 30 tahun, akan terjadi 11 tahun Kabisah yang berumur 355 hari dan sebagai tambahan satu hari ditempatkan pada bulan Zulhijah (bulan Zulhijahnya berumur 30 hari). Sedangkan 19 tahun sisanya merupakan tahun Basitah yang berumur 354 hari. Dengan demikian jumlah hari dalam masa 30 tahun = 30 x 354 hari + 11 hari = 10631 hari, yang diistilahkan dengan satu daur. [9] Sistem hisab ini tak ubahnya seperti Kalender Miladiah (Syamsiah), bilangan hari pada tiap-tiap bulan berjumlah tetap kecuali bulan tertentu pada tahun-tahun Kabisah tertentu jumlahnya lebih panjang satu hari.
Menurut Susiknan Azhari dan Ibnor Azli Ibrahim penanggalan berdasarkan hisab urfi memiliki karakteristik:
1.awal tahun pertama Hijriah (1 Muharam 1 H) bertepatan dengan hari Kamis tanggal 15 Juli 622 M;
2.satu periode (daur) membutuhkan waktu 30 tahun;
3.dalam satu periode/ 30 tahun terdapat 11 tahun panjang (kabisat) dan 19 tahun pendek (basitah). Untuk menentukan tahun kabisat dan basitah dalam satu periode biasanya digunakan syair:
كف الخليل كفه ديا نه * عن كل خل حبه فصانه
Tiap huruf yang bertitik menunjukkan tahun kabisat dan huruf yang tidak bertitik menunjukkan tahun basitah. Dengan demikian, tahun-tahun kabisat terletak pada

tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 24, 26, dan 29[10];
4.penambahan satu hari pada tahun kabisat diletakkan pada bulan yang kedua belas/ Zulhijah;
5.bulan-bulan gasal umurnya ditetapkan 30 hari, sedangkan bulan-bulan genap umurnya 29 hari (kecuali pada tahun kabisat bulan terakhir/ Zulhijah ditambah satu hari menjadi genap 30 hari); 
6.panjang periode 30 tahun adalah 10.631 hari (355 x 11 + 354 x 19 = 10.631). Sementara itu, periode sinodis bulan rata-rata 29,5305888 hari selama 30 tahun adalah 10.631,01204 hari (29,5305888 hari x 12 x 30 = 10.631,01204).[11]
7.perhitungan berdasarkan hisab Urfi ini biasanya dijadikan sebagai ancar-ancar  sebelum melakukan perhitungan penanggalan ataupun perhitungan awal bulan berdasarkan hisab Hakiki. Bila tanpa melakukan perhitungan sebelumnya secara Urfi tentulah para ahli Falak tersebut akan mengalami kesulitan.

Sistem kalender Islam; kalender Hijriah yang dapat dijadikan acuan dalam hal ibadah adalah kalender yang berdasarkan perhitungan atau hisab Hakiki. Hisab Hakiki adalah sistem hisab yang didasarkan pada peredaran Bulan dan Bumi yang sebenarnya. Berikut ini kita akan melihat beberapa konsep yang terkait dengan penanggalan Islam yang berdasarkan hisab Hakiki:
1.Umur Bulan
Menurut sistem ini umur bulan tidaklah konstan (tetap) dan tidak pula tidak beraturan, tapi bergantung posisi hilal setiap awal bulan. Boleh jadi umur bulan itu berselang seling antara dua puluh sembilan dan tiga puluh hari. Atau bisa jadi umur bulan itu berturut-turut dua puluh sembilan atau berturut-turut tiga puluh hari. Semua ini bergantung pada peredaran Bulan dan Bumi yang sebenarnya; posisi hilal pada awal bulan tersebut.[12]
Sistem ini tentu saja berbeda dengan penetapan kalender secara urfi. Dalam sistem penetapan kalender Urfi yang berdasarkan pada perhitungan rata-rata dari peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Perhitungan secara urfi ini bersifat tetap, umur bulan itu tetap setiap bulannya. Bulan yang ganjil; gasal berumur tiga puluh hari sedangkan bulan yang genap berumur dua puluh sembilan hari. Dengan demikian bulan Ramadan sebagai bulan kesembilan (ganjil) selamanya akan berumur tiga puluh hari. Pada hal dalam kenyataannya tidak selalu seperti itu.[13]
Kalender hijriah dikategorikan sebagai sistem penanggalan astronomical calendar, karena didasarkan pada realitas fenomena astronomi yang terjadi. Hal ini berbeda dengan kalender masehi yang hanya didasarkan pada aturan numerik (rata-rata perhitungan fenomena astronominya), sehingga disebut juga dengan aritmathical calendar. [14] Moedji Raharto dalam artikelnya yang berjudul “Dibalik Persoalan Awal Bulan Islam” menjelaskan bahwa sistem kalender Hijriah atau penanggalan Islam adalah sebuah sistem kalender yang tidak memerlukan pemikiran koreksi, karena betul-betul mengandalkan fenomena fase bulan; dalam bahasa T. Djamaluddin, kalender Kamariah merupakan kalender yang paling sederhana yang mudah dibaca di alam. Awal bulan ditandai oleh penampakan hilal (visibilitas hilal) sesudah matahari terbenam (maghrib).[15]
Dalam kalender Kamariah, umur bulan (syahr) bisa diketahui dengan mudah melalui pengamatan yang sederhana terhadap Bulan. Hal itu terkait dengan sunnatullah tentang siklus pergerakan Bulan yang membuat Bulan hadir dalam pengamatan manusia di Bumi dalam posisi dan bentuk penampakan yang selalu berubah setiap hari secara signifikan. Perubahan itu berupa pergeseran posisinya ke arah Timur sejauh rata-rata 12° setiap hari dan pergeseran itu sekaligus mengakibatkan perubahan bentuk penampakannya. Mengenai fenomena ini Al-Qur' an (Yasin/36: 39) menyatakan: "Kami tetapkan bagi Bulan manzilah-manzilah, sehingga kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua."[16]
Keadaan seperti itu tidak terjadi pada Matahari yang hadir dengan bentuk penampakan yang relatif sama setiap hari. Meskipun sebenarnya posisi Matahari itu juga bergeser, yakni ke Utara atau ke Selatan, tetapi pergeserannya itu yang terjadi tersebut tidak secara mencolok karena per hari rata-rata hanya sebesar 0° 15' 24,54". Karena itu --tidak seperti dalam kalender Kamariah--umur bulan dalam kalender Syamsiah tidak bisa dengan mudah diketahui lewat pengamatan yang sederhana terhadap Matahari.[17]
2.Permulaan Hari
Dalam kalender hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari setiap harinya. Penentuan awal bulan; bulan baru ditandai dengan munculnya hilal di ufuk Barat waktu Magrib setelah terjadinya konjungsi atau ijtimak. Ini berdasarkan firman Allah:
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji… QS al-Baqarah/ 2 ayat 189

Ketika masuknya waktu Magrib berarti telah memasuki hari yang baru; terjadinya pergantian tanggal dan  sekaligus meninggalkan hari yang sebelumnya.
Dalam ilmu astronomi, pergantian atau permulaan  hari  berlangsung saat posisi Matahari berkulminasi bawah, yakni pada pukul 24.00 atau pukul 12.00 malam. Ini yang dijadikan patokan dalam kalender yang berbasiskan peredaran Matahari (Solar Calendar). Sementara itu pergantian atau permulaan  hari  dalam penanggalan Islam dalam penentuan awal bulan Kamariah adalah saat terbenamnya Matahari. [18]
Penanggalan hijriah yang berdasarkan atas astronomical fenomena ini tidak mengenal tahun kabisat yang berjumlah 11 tahun dalam setiap 30 tahun; satu daur sebagaimana yang terdapat dalam penanggalan Kamariah yang berdasarkan hisab urfi. Inilah penanggalan atau kalender hijriah yang didasarkan pada perhitungan/hisab hakiki yang berbeda dengan kalender yang didasarkan pada perhitungan/ hisab urfi.
3.New Month (Bulan Baru)
Dalam penentuan telah masuknya bulan baru atau awal bulan Kamariah terdapat perbedaan ahli hisab, di antaranya yang berpendapat bahwa awal bulan baru itu ditentukan oleh terjadinya ijtimak sedangkan yang lain mendasarkannya pada posisi hilal.
KH Noor Ahmad SS menyatakan ijtimak/ konjungsi/ iqtiran/ pangkreman yaitu apabila Matahari dan Bulan berada pada kedudukan/bujur astronomi yang sama. Dalam astronomi dikenal dengan istilah konjungsi (conjunction) dan dalam bahasa Jawa disebut pangkreman. Ijtimak  dalam ilmu hisab dikenal juga dengan istilah ijtimak  an-nayyirain.[19]
Dalam kitab Nur al-Anwar dijelaskan bahwa ijtimak itu adakalanya terjadi setelah Matahari terbenam dan pada waktu yang lain terjadi sebelum matahari terbenam. Ijtimak setelah Matahari terbenam, posisi hilal masih di bawah ufuk dan pasti tidak dapat dirukyah. Adapun apabila ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam ada tiga kemungkinan, yaitu:
a.Hilal sudah wujud di atas ufuk dan mungkin bisa dirukyah.
b.Hilal sudah wujud di atas ufuk dan tidak mungkin bisa dirukyah
c.Hilal belum wujud di atas ufuk/masih di bawah ufuk  dan pasti tidak mungkin bisa dirukyah. [20]

Kelompok yang berpegang pada sistem ijtimak menetapkan jika ijtimak  terjadi sebelum Matahari terbenam, maka sejak Matahari terbenam itulah awal bulan baru sudah mulai masuk. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan hilal dapat dirukyah atau tidak.
Sedangkan kelompok yang berpegang pada posisi hilal menetapkan jika pada saat Matahari terbenam posisi hilal sudah berada di atas ufuk, maka sejak Matahari terbenam itulah perhitungan bulan baru dimulai. [21]
Keduanya sama dalam penentuan awal masuknya bulan Kamariah, yakni pada saat Matahari terbenam. Namun keduanya berbeda dalam menetapkan kedudukan Bulan di atas ufuk. Aliran ijtimak qabl ghurub sama sekali tidak mempertimbangkan dan memperhitungkan kedudukan hilal di atas ufuk pada saat sunset. Sebaliknya kelompok yang berpegang pada posisi hilal saat sunset menyatakan apabila hilal sudah berada di atas ufuk itulah pertanda awal masuknya bulan baru. Bila hilal belum wujud berarti hari itu merupakan hari terakhir dari bulan yang sedang berlangsung. [22]
Selanjutnya kedua kelompok ini masing-masingnya terbagi lagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Perbedaan ini disebabkan atau dikaitkan dengan fenomena-fenomena yang terdapat di sekitar peristiwa ijtimak dan ghurub asy-syams.  Dan dalam perkembangan wacana dalam penetapan awal bulan Kamariah, kelompok yang berpegang pada posisi hilal inilah yang lebih mendominasi. Akan dibahas tentang kelompok yang berpedoman pada wujudul hilal dan kelompok yang berpedoman pada imkanu rukyah dalam penentuan awal bulan. Keduanya merupakan bagian dari mereka yang berpegang pada posisi hilal dan memiliki standar atau patokan yang berbeda.
Mereka yang berpedoman pada wujudul hilal menyatakan bahwa pedoman masuknya awal bulan adalah telah terjadi ijtimak  sebelum terbenam Matahari dan pada saat sunset itu hilal telah wujud di atas ufuk. Sementara itu mereka yang berpedoman pada imkanu rukyah menyatakan bahwa patokan masuknya awal bulan adalah telah ijtimak terjadi sebelum terbenam Matahari dan pada saat sunset itu hilal telah berada di atas ufuk pada ketinggian yang memungkinkan untuk dirukyah.
Dalam menentukan masuknya awal bulan, mereka yang berpedoman pada wujudul hilal berpatokan pada posisi hilal sudah di atas ufuk tanpa mematok ketinggian tertentu. Jika hilal telah di atas ufuk otomatis pertanda masuknya awal bulan. Mereka yang berpedoman pada imkan ar-rukyah menentukan ketinggian tertentu hilal sehingga memungkinkan untuk dirukyah. Kriteria ketinggian hilal ini pun dimaknai berbeda-beda ada mereka yang menyatakan  bahwa ketinggian hilal untuk memungkinkan untuk dirukyah itu harus 2°, 3°, 4°,7°, atau 9°. Di samping itu ada kriteria-kriteria lain sebagai pendukung seperti illuminasi bulan, jarak antara Bulan dan Matahari saat ghurub, posisi hilal terhadap Matahari, jangka waktu antara ijtimak dan terbenamnya Matahari, dan lainnya. [23]

4.Hilal
  Hilal (bulan sabit pertama yang bisa diamati setelah konjungsi) digunakan sebagai penentu waktu ibadah. Perubahan yang jelas dari hari ke hari menyebabkan bulan dijadikan penentu waktu ibadah yang baik. Nampaknya karena alasan kemudahan dalam penentuan awal bulan dan kemudahan dalam mengenali tanggal dari perubahan bentuk (fase) bulan inilah kelebihan tahun Kamariah. Ini berbeda dengan kalender Syamsiah (kalender matahari) yang menekankan pada keajegan (konsistensi) terhadap perubahan musim, tanpa memperhatikan tanda perubahan hariannya.
  Pendefinian hilal bisa beragam karena itu bagian dari riset ilmiah, semua definisi itu semestinya saling melengkapi satu dengan lainnya. Bukan dipilih definisi parsial, tapi hilal harus didefinisikan dengan sebuatu definisi yang komprehensif. Misalnya, definisi lengkap yang dirumuskan sebagai berikut: hilal adalah bulan sabit pertama yang teramati di ufuk barat sesaat setelah Matahari terbenam, tampak sebagai goresan garis cahaya yang tipis, dan bila menggunakan teleskop dengan pemroses citra bisa tampak sebagai garis cahaya tipis di tepi bulatan bulan yang mengarah ke matahari. Dari data-data rukyatul hilal jangka panjang, keberadaan hilal dibatasi oleh kriteria hisab tinggi minimal sekian derajat bila jaraknya dari matahari sekian derajat dan beda waktu terbenam bulan-matahari sekian menit serta fraksi iluminasi sekian prosen[24]. Penting artinya perhitungan posisi hilal ini. Karena perhitungan posisi hilal terkait dengan penentuan awal bulan (new month). Jika hilal telah wujud di atas ufuk menurut kriteria sebagian kelompok atau ketinggian hilal telah memenuhi kriteria visibilitas untuk dirukyah (imkanu rukyah) menurut sebagian kelompok yang lain, maka esok harinya  adalah tanggal satu bulan yang baru.


  KH Noor Ahmad SS: Dari Metode Hakiki Taqribi ke Hakiki Tahqiqi

Departemen Agama telah mencoba melakukan pengklasifikasian kitab-kitab ilmu Falak karya ulama dan ahli Astronomi Indonesia terkait dengan perhitungan penetapan awal bulan Kamariah tersebut ke dalam beberapa kategori sesuai dengan tingkat akurasi penghitungannya. Secara garis besar perhitungan hisab rukyat awal bulan itu ada dua, yakni hisab Urfi dan Hakiki. Tentang metode hisab Urfi ini telah disinggung sebelumnya.
Kemudian hisab Hakiki yang didasarkan pada peredaran bulan yang sebenarnya ini dibagi lagi menjadi tiga tingkatan, sebagai berikut:
1.Hisab Hakiki Taqribi,  kitab yang tingkat akurasi penghitungannya rendah.
2.Hisab Hakiki Tahqiqi, kitab yang tingkat akurasi penghitungannya sedang.
3.Hisab Hakiki kontemporer, kitab yang tingkat akurasi penghitungannya tinggi

Pemilahan ini dicetuskan dalam forum seminar sehari ilmu Falak tanggal 27 April 1997 di Tugu, Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan klasifikasi di atas, maka kitab Sullam an-Nayyiran karya Muhammad Manshur bin Abdul Hamid bin Muhammad Damiri, Syams al-Hilal karya Noor Ahmad SS Jepara, dan Fath ar-Rauf al-Mannan karya Abu Hamdan Abdul Jalil adalah tergolong hisab Hakiki Taqribi yang tingkat akurasinya rendah. Karena kitab ini basis data yang dijadikan acuannya adalah Zeij (tabel astronomi) Ulugh Beik (w. 1449 M) dan dalam pelaksanaan pengamatannya berdasarkan teori Geosentrisnya Ptolomeus. Sedangkan  teori ini secara ilmiah telah gugur. Ketinggian hilal dihitung dari titik pusat Bumi, bukan dari permukaan Bumi dan berpedoman pada gerak rata-rata Bulan; setiap hari bulan bergerak dari arah barat ke timur 12˚. Rumus ketinggian hilal adalah selisih waktu ijtimak dan waktu ghurub kemudian di bagi dua. Akibatnya apabila ijtimak terjadi sebelum ghurub, maka pastilah ketinggian hilal itu positif di atas ufuk[25]. Kenyataannya hasil perhitungannya itu tidak didukung oleh argumentasi-argumentasi ilmiah sebagai pengungkapan data, fakta, dan kenyataannya dalam praktek di lapangan. Dengan kata lain hasil perhitungannya terkadang berbeda dengan kenyataan yang ditemui di lapangan ketika observasi rukyatul hilal dilakukan.
Perhitungan hisab ini juga belum memberikan informasi tentang azimut Matahari dan Bulan. Di samping itu diperlukan beberapa ta’dil atau koreksi  agar hasil perhitungannya menjadi akurat[26].
Metode hisab Hakiki Tahqiqi dalam pengamatannya telah berdasarkan pada teori Nicolas Copernicus, teori Heliosentris yang menyatakan Matahari adalah pusat dari tatasurya. Perhitungannya telah menggunakan rumus-rumus spherical trigonometri dengan melakukan banyak koreksian/ta’dil data pergerakan Matahari dan Bulan. Dalam menentukan ketinggian hilal dengan memperhatikan koordinat lintang dan bujur, deklinasi dan sudut waktu Bulan dengan koreksi refraksi, paralaks, Dip, dan semi diameter Bulan. Metode hisab ini menyajikan data tentang ijtimak, terbenamnya Matahari, tinggi hilal, azimut Matahari dan Bulan sehingga sangat membantu dalam pelaksanaan rukyatul hilal[27].
 Metode yang masuk kategori hisab Hakiki Tahqiqi antara lain  kitab al-Khulashah al-Wafiyah karya Zubair Umar al-Jailani, Almanak Menara Kudus karya Turaikhan Adjhuri, Nur al-Anwar karya Noor Ahmad SS Jepara, al-Maksuf karya Ahmad Soleh Mahmud Jauhari Cirebon, Ittifaq Dzat al-Bain karya Muhammad Zuber Abdul Abdul Karim Gresik, Hisab Hakiki karya K Wardan Dipo Ningrat, al-Qawa’id al-Falakiyah karya Abd al-Fatah as-Sayyid ath-Thufi al-Falaki, dan Badi’ah al-Mitsal karya Ma’shum Jombang.
Dan yang tergolong metode hisab Hakiki Kontemporer antara lain: metode al-Mawaqit karya Khafid, Ephimeris Depatemen Agama, al-Falakiyah karya Sriyatin Shadiq. Metode  hisab Hakiki Kontemporer yang memiliki tingkat akurasi tinggi karena telah berbasiskan ilmu Astronomi. Metode dalam melakukan perhitungannya telah melakukan koreksi yang banyak dan menyajikan data-data yang lengkap untuk keperluan rukyatul hilal.
Dalam perjalanan intelektualnya, Noor Ahmad SS mempelajari ilmu Falak sejak tahun 1950an. Dalam melakukan perhitungan-perhitungan yang dalam kajian ilmu Falak masih secara manual tanpa ada alat bantu. Pada priode-priode selanjutnya barulah ditemukan kalkulator dan program komputer.
Pada masa awal belajar ilmu Falak; sesuai dengan perkembangan ilmu Falak ketika itu di Indonesia, metode hisab yang berkembang adalah metode hisab Hakiki Taqribi. Buah karya yang dihasilkannya pada priode ini juga berbasiskan metode hisab Hakiki Taqribi. Antara lain ia menulis kitab Taufiq  ar-Rahman, Syawariq al-Anwar, dan Syams al-Hilal.
Sesuai dengan perkembangan pengetahuan dalam ilmu Falak sebagai akibat persentuhannya dengan ilmu pengetahuan modern, maka ilmu Falakpun menapaki perhitungan atau hisab berbasiskan Hakiki Tahqiqi. Priode ini kita sebut sebagai priode kedua dari tahapan pengembaraan intelektual yang dilakukan Noor Ahmad SS, ia mempelajari ilmu Falak yang berbasiskan hisab Hakiki Tahqiqi  di antaranya: hisab kalender Menara Kudus, kitab Badi’ah al-Mitsal, Khulashah al­-Wafiyah, Hisab Haqiqi, Mathla’ as-Sa’id, Muntaha Nataij al-Aqwal,  dan Bulugh al-Wathar. Ia pun kemudian mereformulasi ulang  pemikirannya dalam ilmu Falak sehingga melahirkan kitab Nur al-Anwar.
KH Noor Ahmad SS menyebutkan bahwa hisab Nur al-Anwar adalah hisab Qath’i yang disebut juga Hisab Hakiki Tahqiqi. Sistem perhitungannya dapat dibantu dengan perangkat pendukung modern sesuai dengan kemajuan IPTEK. Hasilnya akurat sesuai dengan perhitungan nautika. Dalam proses perhitungannya didukung oleh data tahun, bulan hari, jam, menit, detik, garis lintang, garis bujur dan lain-lainnya sehingga hasil hisab ini dapat dibuat grafik posisi Matahari dan Bulan secara tepat kapan saja dan di mana saja. Hisab ini praktis digunakan dalam kegiatan rukyatul hilal[28].
Bahkan sekarang telah dibuat oleh salah seorang anak dari KH Noor Ahmad SS software Nur al-Anwar. Dengan demikian proses perhitungan dengan sofrware ini akan semakin mudah karena usernya hanya tinggal memasukkan data-data yang diminta, maka hasil perhitungannya dengan segera dapat diperoleh. Dinyatakan bahwa jika kita melakukan perhitungan  dengan metode hisab Nur al-Anwar menggunakan data yang disajikan dalam metode hisab Hakiki Kontemporer, maka akan menghasilkan hasil perhitungan yang tingkat akurasinya tinggi.


 Kontribusi Noor Ahmad SS bagi Perkembangan Ilmu Falak di Indonesia

Ia merupakan ahli ilmu Falak yang mempelopori perubahan sistem buruj sebagai basis perhitungan Falak para ulama tradisional Indonesia kepada sistem derajat[29].  Perubahan kecil ini membuat suatu loncatan besar dalam pembelajaran ilmu Falak yang berbasis kitab-kitab  ilmu Falak karangan para ulama tradisional sehingga menjadi lebih mudah dalam proses  perhitungannya dan lebih sesuai dengan model perhitungan ilmu Falak yang berbasis ilmu Astronomi modern.
Karyanya antara lain kitab-kitab ilmu Falak yang pernah ditulis adalah:  Taufiq  ar-Rahman, Syawariq al-Anwar, Syams al-Hilal, dan Nur al-Anwar. Kitab yang terakhir inilah yang merupakan magnum opus pemikiran ilmu Falaknya. Kitab ini banyak digunakan oleh kalangan pesantren di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dan merupakan salah satu sistem perhitungan ilmu Falak yang dijadikan rujukan Depag RI dalam sidang penetapan; isbat pada awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah.
Noor Ahmad SS merupakan salah satu di antara para ulama ahli Falak Indonesia yang cukup diperhitungkan. Di antara prestasinya adalah mengubah keputusan pemerintah Saudi Arabia dalam menentukan waktu wukuf pada tahun 1988. Waktu itu, pemerintah Saudi Arabia berkeras ingin menentukan hari waktu Wukuf dalam pelaksanaan ibadah haji yang tidak sesuai dengan perhitungan ilmu Falak. Tapi disesuaikan begitu saja sehingga pelaksanaannya pada hari Jum’at, agar dapat menjadi momentum Haji Akbar. Melihat rekayasa pemerintah Saudi Arabia, di Indonesia PBNU yang pada waktu itu dipimpin oleh KH Abdurrahman Wahid pun bertidak cepat. PBNU secara resmi mengutus KH Noor Ahmad SS untuk meluruskan kesalahan pemerintah Saudi Arabia tersebut. Maka Noor Ahmad pun berada dalam rombongan haji para pengurus PBNU. Di Mekah, KH Nur Ahmad kemudian membuat penuturan tertulis dalam bahasa Arab yang menyatakan bahwa klaim pemerintah Saudi Arabia adalah salah. Ia menyertakan berbagai pandangan hingga setebal delapan belas lembar lalu dikirim ke beberapa pihak, termasuk pemerintah kerajaan Saudi Arabia dan Kedutaan Indonesia di sana[30].
Lalu ia mengumpulkan orang-orang Indonesia yang bermukim di Mekah, untuk melakukan tekanan secara politik. Ia berpesan, jika benar Saudi Arabia tetap memutuskan dan mengumumkan bahwa wukuf jatuh pada hari Jumat, maka mereka harus tetap melaksanakan wukuf pada hari Sabtu. Akhirnya, pemerintah Saudi Arabia bersedia merubahnya pendiriannya dan jadilah akhirnya wukuf bersama-sama pada hari Sabtu[31].
Jadwal Salat Sepanjang masa yang dibuatnya dijadikan panduan dalam melaksanakan ibadah salat di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sekitarnya. Bahkan penulis menemukan jadwal salat sepanjang masa ini digunakan juga oleh beberapa pihak di daerah Lampung.
Sebagai seorang ahli ilmu Falak yang dimumpuni, ia mentransfer ilmunya melalui pelajaran tentang ilmu Falak di pondok pesantrennya di Setinggil, Jepara. Di samping itu di usianya yang sudah senja, ia masih tetap aktif dalam seminar dan lokakarya ilmu Falak baik di tingkat lokal dan nasional. Ia adalah contoh hidup sebagai seorang yang sepanjang hidupnya didarmabaktikan untuk pengembangan ilmu Falak. Di antara bentuk pengakuan atas ketinggian ilmunya di bidang ilmu Falak, ia tercatat sebagai anggota Badan Hisab Rukyah (BHR) Departemen Agama RI dan Penasehat Lajnah Falakiyah PBNU.


Catatan Akhir

Menurut mengklasifikasian yang dilakukan Departemen Agama dinyatakan bahwa tingkat akurasi metode perhitungan Syams al-Hilal karya Noor Ahmad SS adalah tergolong metode perhitungan ilmu Falak yang Hakiki Taqribi yang tingkat akurasinya rendah. Dan  kitab Nur al-Anwar tergolong metode hisab yang Hakiki Tahqiqi yang tingkat akurasinya sedang. Dalam metode hisab yang Hakiki Tahqiqi telah dilakukan koreksian-koreksian hilal dan Matahari agar sesuai dengan keadaan riil; yang sebenarnya.
Dalam metode hisab Hakiki Kontemporer, metode al-Mawaqit karya Khafid misalnya. Menurut Khafid dalam metode al-Mawaqit terdapat banyak sekali koreksian-koreksian untuk posisi hilal dan matahari. Walaupun jika dipilah-pilah, masing-masing koreksian itu hanya kecil pengaruhnya terhadap perhitungan misalnya sampai detik (˝). Tetapi jika diakumulasi koreksian-koreksian itu akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam perhitungan.
Perlu juga kiranya dalam tulisan ini didekati dengan pendekatan historical knowledge, (latar belakang perkembangan ilmu pengetahuan). Pendekatan ini dalam kerangka memposisikan karya-karya Noor Ahmad SS dalam pemetaan ilmu Falak di Indonesia. Sehingga kita akan memposisikannya secara proposional sesuai dengan perkembangan ilmu Falak pada saat itu dan menjawab persoalan umat pada masanya. Bukan secara serta menyatakan pensejajarannya dengan metode Hisab Hakiki Kontemporer ataupun   hanya melihat ketertinggalannya dari perkembangan ilmu Hisab Hakiki Kontemporer.



Penutup

Demikianlah Noor Ahmad SS dengan penuh semangat  dan dedikasinya untuk perkembangan ilmu Falak. Semoga ini memberikan inspirasi untuk kemajuan ilmu Falak yang berbasis ilmu Falak tradisional untuk mengadopsi ilmu falak yang berbasis ilmu Astronomi modern. Hal ini menjadi penting untuk menunjang perkembangan ilmu Falak (Astronomi Islam) dalam berinteraksi dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Wa Allahu a’lamu bi ash-shawab


Daftar Pustaka

Ahmad SS, Noor, 1998, (Tanpa Judul), Makalah pada Musyawarah Kriteria Imkanur Rukyah di Indonesia, Bogor: 24-26 Maret 1998

____________, 2000, Sistem Hisab Nur al-Anwar dan Fath Ra’uf al-Mannan, Makalah pada Lokakarya Imsakiyah Ramadhan 1421H/2000M se Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh PPM IAIN Wali Songo Semarang
____________,2000, Menuju Cara Rukyat yang Akurat, Makalah pada Lokakarya Imsakiyah Ramadhan 1421H/2000M se Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh PPM IAIN Wali Songo Semarang

____________, 2001, Hisab dan Kedudukannya dalam Ibadah Muaqat, Makalah pada Lokakarya Imsakiyah Ramadhan 1422H/2001M se Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh PPM IAIN Wali Songo Semarang

____________, 2003, Upaya Menyatukan Visi Terhadap Peristiwa Bersejarah Menurut Hisab Nur al-Anwar, Makalah pada Lokakarya Imsakiyah Ramadhan 1424H/2003M se Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh PPM IAIN Wali Songo Semarang


____________,2006, Menuju Cara Rukyat yang Akurat, Makalah pada Lokakarya Imsakiyah Ramadhan 1427H/2006M se Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh PPM IAIN Wali Songo Semarang

____________,1986, Risalah al-Falak Nur al-Anwar min Muntaha al-Aqwal fi Ma’rifah Hisab as-Sinin wa al-Hilal wa al-Ijtima’ wa al-Kusuf  wa al-Khusuf ’ala al-Haqiqi bi at-Tahqiqi bi ar-Rashd al-Jadid, Kudus: Madrasah Tasywiq ath-Thullab Salafiyah

____________, 1986, Jadwal al-Falak Nur al-Anwar min Muntaha al-Aqwal fi Ma’rifah Hisab as-Sinin wa al-Hilal wa al-Ijtima’ wa al-Kusuf  wa al-Khusuf ’ala al-Haqiqi bi at-Tahqiqi bi ar-Rashd al-Jadid, Kudus: Madrasah Tasywiq ath-Thullab Salafiyah

Amin, Syaifullah, Kh Nur Ahmad, Usulnya untuk Mengubah Waktu Haji Diterima Pemerintah Saudi Arabiahttp://www.nu.or.id/

Azhari, Susiknan, 2001, Ilmu Falak Teori dan Praktek, Yogyakarta: Lazuari, Cet.ke-1,

____________, 2007, Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, Cet. Ke-2

____________, 2008, Ensiklopedi Hidab Rukyat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet.ke-2

Depag RI,  Ditjen Binbaga Islam, 1990,  Laporan Keputusan Musyawarah Hisab Rukyat, Jakarta: Depag RI

Depag RI, 1981, Almanak Hisab Rukyat, Jakarta: Depag RI

____________, 2004, Hisab Rukyat dan Perbedaannya, Jakarta: Depag RI


____________, 1992, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: Gema Risalah Press


___________,1994/1995, Pedoman Penghitungan Awal Bulan Qamariyah, Jakarta: Depag RI

Djambek, Sa’adoeddin, 1976, Hisab Awal Bulan, Jakarta: Tinta Mas

Fathurohman SW, Oman, 2004, Saadoeddin Djambek dan Hisab Awal Bulannya dalam Depag RI, 2004, Hisab Rukyat dan Perbedaannya, Jakarta: Depag RI

Hambali, Slamet, 2008, Hisab Awal Bulan Sistem Ephemeris Makalah pada Lokakarya Imsakiyah Ramadhan 1429H/2008M se Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh PPM IAIN Wali Songo Semarang

Karim MS, Abdul, 2006, Mengenal Ilmu Falak, Semarang: Intra Pustaka Utama, Cet.ke-1

Khazin, Muhyiddin, 2008, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Buana Pustaka, Cet.ke-3

____________, Hisab Awal Bulan Sistem Nurul Anwar (Kajian Astronomis) dalam Depag RI, 2004, Hisab Rukyat dan Perbedaannya, Jakarta: Depag RI

Kontribusi Ulama Betawi Terhadap Ilmu Falak, hhtp://islamic-center.or.id

Murtadho, Moh, 2008, Ilmu Falak Praktis, Malang: UIN Malang Press, cet.ke1

Rachim, Abdur, 1983, Ilmu Falak, Yogyakarta: Liberty, Cet.ke-1

____________,1998, Penyerasian Metode dan Sistem Penetapan Awal Bulan Qamariyah di Indonesia, Makalah pada Musyawarah Kriteria Imkanur Rukyah di Indonesia, Bogor: 24-26 Maret 1998

Saksono, Toto, 2007, Mengkompromikan Rukyat & Hisab, Jakarta: Amythas Publicita bekerja sama dengan Center for Islamic Studies

Shadiq, Sriyatin, 2008, Makalah Simulasi dan Metode Rukyatul Hilal, Pelatihan Hisab Rukyah Tingkat Nasional, Ponpes Setinggil, Kriyan Kalinyamatan Jepara pada tanggal 26-29 Desember 2008M/ 28 Zulhijjah- 1 Muharram 1430H
 
Taqwim Hijriyah,  hhtp://afdacairo.blogspot.com

T. Djamaluddin,  Rekonstruksi Kejadian Zaman Nabi Berdasarkan Hisab Konsistensi Historis-Astronomis Kalender Hijriyah, http: //t-djamaluddin.space.live.com

Wawancara dengan KH Noor Ahmad SS, 28 Desember 2008







[1] Jayusman, Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Lampung, http://jayusmanfalak.blogspot.com  emai: jay_falak@yahoo.co.id

[2]  Muhyiddin Khazin, 2008, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Buana Pustaka, Cet.ke-3, h. 28-29

[3] Ibid, h. 29
[4] Moh Murtadho,  2008, Ilmu Falak Praktis, Malang: UIN Malang Press, cet.ke1, h 29

[5] Susiknan Azhari , Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet.ke-2,  h.161-162

[6] Wawancara dengan KH Noor Ahmad SS, 28 Desember 2008

            [7] Syamsul Awar,  Almanak Berdasarkan Hisab Urfi Kurang Sejalan Dengan Sunnah Nabi saw: Surat Terbuka Untuk Pak Darmis, Almanak_Hijriah.pdf – Adobe Reader, hlm. 8
                                      
             [8] Oman Fathurohman SW, makalah Kalender Muhammadiyah Konsep dan Implementasinya,  disampaikan dalam Musyawarah Ahli Hisab Muhammadiyah di Yogyakarta, 29-30 Juli 2006.

                [9] Taqwim Hijriyah,  hhtp://afdacairo.blogspot.com

[10]   Cara menentukan suatu tahun itu termasuk tahun Kabisah atau basitah adalah dengan membagi tahun tersebut dengan angka 30. Jika sisanya termasuk deretan angka-angka pada syair di atas maka tahun tersebut termasuk tahun Kabisah, jika tidak maka termasuk tahun Basitah. Sebagai contoh tahun 1430 H, 1430: 30= 47 daur sisa 20. Bilangan 20 tidak termasuk tahun Kabisah, maka tahun 1430 H adalah tahun Basitah. Contoh yang lain adalah tahun 1431 daur sisa 21. Bilangan 21 termasuk tahun Kabisah. Sa’aduddin Djambek agak berbeda dalam penentuan tahun Kabisah ini, ia memasukkan tahun ke 16 sebagai tahun Kabisah dan tidak tahun yang ke 15.

[11] Susiknan Azhari dan Ibnor Azli Ibrahim, Kalender Jawa Islam, hlm. 136-137
   [12] Susiknan Azhari, Hisab Hakiki Model Muhammad Wardan: Penelusuran Awal dalam Depag RI, 2004, Hisab Rukyat dan Perbedaannya, Jakarta: Depag RI, h. 30-31

            [13] Syamsul Awar,  Almanak Berdasarkan Hisab Urfi Kurang Sejalan Dengan Sunnah Nabi saw, hlm. 8

[14] Hendro, Membaca Langit, hlm. 46

[15] Susiknan Azhari dan Ibnor Azli Ibrahim, Kalender Jawa Islam: Memadukan Tradisi dan Tuntutan Syar'I, Jurnal Asy-Syir’ah Vol. 42 No. I, 2008, h. 133-134. Lebih lanjut lih Moedji Raharto. “Dibalik Persoalan Awal Bulan Islam”, dimuat dalam majalah Forum Dirgantara, No. 02/TH. /Oktober/1994, h. 25 dan T. Djamaluddin. “Kalender Hijriah, Tuntunan Penyeragaman Mengubur Kesederhanaannya”, dimuat dalam harian Republika, Jum’at, 10 Juni 1994, h. 8.

[16] Abdul Salam Nawawi, Mengapa Islam Memakai Kalender Bulan?, http://www.nu.or.id

[17] Ibid
[18] Oman Fathurohman SW, Saadoeddin Djambek dan Hisab Awal Bulannya dalam Depag RI, 2004, Hisab Rukyat dan Perbedaannya, (Jakarta: Depag RI, 2004), hlm. 114-115

[19] Noor Ahmad SS, 1986, Risalah al-Falak Nur al-Anwar min Muntaha al-Aqwal fi Ma’rifah Hisab as-Sinin wa al-Hilal wa al-Ijtima’ wa al-Kusuf  wa al-Khusuf ’ala al-Haqiqi bi at-Tahqiqi bi ar-Rashd al-Jadid, Kudus: Madrasah Tasywiq ath-Thullab Salafiyah, h. 6

[20] Ibid, hlm. 33

                [21] Depag RI, 1981, Almanak Hisab Rukyat, (Jakarta: Depag RI, 1981), hlm. 99

[22] Susiknan Azhari, Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007), Cet. Ke-2, hlm. 109

            [23] Misalnya Muhammadiyah dalam hal ini memilih posisi Bulan dan Matahari terhadap ufuk sebagai tanda awal bulan, yakni apabila Matahari lebih dulu terbenam daripada Bulan setelah sebelumnya telah terjadi ijtimak. Inilah yang dikenal dengan “wujudul-hilal”.Kata “hilal” pada kata “wujudul-hilal”, dengan demikian, bukan hilal dalam arti visual sebagaimana ditunjukkan dalam hadis-hadis Nabi saw. melainkan hilal dalam arti konsepsual, yakni bagian permukaan Bulan yang tersinari Matahari menghadap ke Bumi. Atau lebih tepat lagi, istilah itu harus diartikan Matahari sudah terlampaui oleh Bulan dalam peredarannya dari arah barat ke timur; pembatasnya adalah ufuk. Oman Fathurohman SW, makalah Kalender Muhammadiyah Konsep dan Implementasinya,  disampaikan dalam Musyawarah Ahli Hisab Muhammadiyah di Yogyakarta, 29-30 Juli 2006.
[25] Murtadho, op.cit, h.225-226

[26] Ibid
[27] Ibid, 226-227
[28] Noor Ahmad SS 2003, Upaya Menyatukan Visi Terhadap Peristiwa Bersejarah Menurut Hisab Nur al-Anwar, Makalah pada Lokakarya Imsakiyah Ramadhan 1424H/2003M se Jawa Tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh PPM IAIN Wali Songo Semarang, h. 2

[29] Susiknan Azhari , Ensiklopedi Hisab Rukyat,  loc.cit
[30] Syaifullah Amin, Kh Nur Ahmad, Usulnya untuk Mengubah Waktu Haji Diterima Pemerintah Saudi Arabiahttp://www.nu.or.id/

[31] Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar