Senin, 22 Juni 2009

Inyiak Parabek dan Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau

Inyiak Parabek[1] dan Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau











Abstrak


Pembicaraan tentang pembaharuan di Minangkabau pada awal abad ke-20 berarti membahas gerakan pembaharuan yang digaungkan kaum Mudo. Di antara tokoh kaum Mudo yang memiliki peranan yang signifikan adalah Inyiak Parabek. Melalui madrasah Sumatera Thawalib yang ia dirikan dan dakwah islamiyah yang dilakoninya ide-ide pembaharuan itu disosialisasikan. Gerakan ini berhasil memberantasan bid’ah dan khurafat yang melingkupi kehidupan masyarakat. Serta mendorong umat Islam ke arah kemajuan.





A. Pendahuluan


Dunia Islam memasuki perkembangan menuju kemodernan setelah mereka bersentuhan dengan Barat yang telah lebih dahulu maju. Berawal dari Mesir yang diinvasi oleh Perancis. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperkenalkan Perancis menyadarkan para sarjana di Mesir akan ketertinggalan mereka.


Kesadaran ini, mendorong mereka untuk melepaskan hal-hal yang selama ini belenggu umat Islam. Hal-hal yang membelit mereka dan menyebabkan mereka jauh tertinggal. Kemudian para sarjana ini berupaya menyadarkan mereka sehingga mereka dapat meraih kemajuan dan mengejar ketertinggalannya.


Ide pembaharuan ini seperti wabah yang dengan cepat menyebar ke seluruh dunia Islam. Di Indonesia ide ini pun bergema dengan kuat. Di daerah Minangkabau terdapat satu golongan ulama yang secara konsisten menyuarakan ide pembaharuan ini. Mereka lebih dikenal dengan sebutan kaum Mudo.


Salah seorang tokoh sentral kaum Mudo ini adalah Inyiak Parabek. Ia merupakan pendiri madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Selanjutnya dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang ketokohan Inyiak Parabek, pembaharuan yang ia lakukan, perjuangan dan tantangan yang dihadapi dalam menyuarakan ide pembaharuan dan posisinya dalam barisan tokoh kaum Mudo.




B. Latar Belakang Historis Pembaharuan


Dalam sejarah kebangkitan Islam di Minangkabau, selalu dikaitkan dengan andil dari tiga orang ulama. Sekembalinya dari tanah suci, mereka menggerakkan pembaharuan Islam di Minangkabau. Mereka adalah H. Miskin, H. Sumanik, dan H. Piobang[2]. Gelombang pembaharuan yang digulirkan terjadi pada abad kesembilas[3] . Pembicaraan tentang pembaharuan Islam di Minangkabau tidak dapat dilepaskan dari peran ketiganya.


Pada saat mereka naik haji ke tanah suci dan menambah pelajaran mereka di sana, di Saudi Arabia sedang berkembang gerakan Wahabi. Gerakan Wahabi ini adalah suatu gerakan yang dipimpin oleh Muhammad ibn Abd al-Wahab. Gerakan yang disuarakannya bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam dari bid’ah dan khurafat yang disusupkan ke dalam ajaran Islam. Serta menyuarakan untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni sebagaimana yang telah digariskan dalam al-Qur’an dan Sunnah.


Setelah mereka kembali ke Minangkabau, mereka mendapati keadaan masyarakat yang telah mulai menyimpang dari ajaran Islam. Kondisi ini mendorong mereka untuk meluruskan keadaan tersebut, sebagaimana yang ditempuh oleh gerakan Wahabi yang telah mereka saksikan sendiri di Saudi Arabia sebelumnya.


Gerakan pembaharuan yang disuarakan oleh ketiga ulama tersebut mendapat respon positif dan sokongan dari para ulama lain yang berasal dari berbagai daerah di Minangkabau. Mereka para ulama yang menyokong gerakan pemurniaan ajaran Islam yang disuarakan H. Miskin, H. Sumanik, dan H. Piobang tersebut dikenal dengan Harimau Nan Salapan (Harimau yang delapan), karena jumlah mereka adalah delapan orang. Mereka adalah Tuangku Nan Renceh dari Kamang, Tuangku di Kubu Sanang, Tuangku di Ladang Laweh, Tuangku di Padang Luar, Tuangku di Galuang, Tuangku di Koto Ambalau, Tuangku di Lubuak Aur, dan H. Miskin sendiri[4]. MD Mansur menyatakan bahwa H. Miskin tidak masuk dalam dewan Harimau Nan Salapan. Menurutnya anggota dewan Harimau Nan Salapan adalah Tuangku Nan Renceh dari Kamang, Tuangku di Ladang Laweh, Tuangku di Padang Luar, Tuangku di Galuang, Tuangku Barapi, Tuangku di Lubuak Aur, Tuangku Biaro dan Tuangku Kapau[5].


Kelompok ulama ini menerapkan peraturan yang keras terhadap daerah yang berada di bawah pengaruh mereka. Di daerah tersebut diterapkan hukum Islam secara ketat. Dalam hal peribadatan seperti salat, puasa, menutup rambut bagi perempuan, diawasi secara ketat pelaksanaannya. Adapun perbuatan yang melanggar ajaran agama seperti berjudi, mengadu ayam, mengadu burung Puyuh atau burung Balam, dan minum tuak dilarang keras. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dikenakan sanksi hukuman secara berat bahkan ada yang dijatuhi hukuman bunuh[6].


Paham baru ini lambat laun menimbulkan kontroversi yang luas di masyarakat Minangkabau. Mereka pun berbeda-beda dalam menanggapinya. Ada golongan yang bersikap akomodatif dan dapat menyesuaikan diri dengan faham ini serta kemudian ikut berpartisipasi aktif di dalamnya. Sebaliknya, adapula golongan yang merasa terancam dengan semakin meluaskan faham baru ini. Menurut mereka bahwa sikap menerima dan tunduk dengan faham baru tersebut berarti kehilangan pengaruh dan kekuasaan yang mereka miliki selama ini. Di antara mereka adalah keluarga Istana Pagaruyuang dan keluarga Empat Balai (empat daerah) yaitu: Saruaso, Sumanik, Sungai Tarab, dan Padang Gantiang[7]. Belakangan golongan ini diidentifikasi dengan sebutan kaum Adat.


Golongan yang menentang gerakan pembaharuan Islam ini tentu saja mengerahkan segenap daya dan upaya untuk membendung meluasnya penyebaran faham baru ini. Merasa kekuatan mereka kalah; tidak sebanding, mereka lalu mulai melirik golongan atau kekuatan lain yang memungkinkan dijadikan partner untuk bekerja sama. Mereka lalu meminta bantuan pada Belanda yang pada masa itu telah masuk ke kota Padang. Saat inilah yang ditunggu-tunggu oleh Belanda yang telah sejak lama berhasrat untuk menjajah dan menguasai Minangkabau. Maka semakin terbukalah peluang dan semakin muluslah jalan bagi Belanda untuk menjajah Minangkabau.


Perkembangan selanjutnya terjadilah pertentangan fisik antara kaum Adat yang dibantu oleh Belanda dengan kaum ulama di pihak lain. Para ulama tadi dengan gagah perkasa mengumandangkan jihad untuk melawan penjajahan Belanda, dengan berperang mengangkat senjata di garis depan. Perang antara para ulama dengan penjajah Belanda yang berada di belakang kaum Adat ini dikenal dengan perang Paderi. Paderi ada yang mengartikannya dengan kelompok para ulama yang dulunya belajar agama Islam di Pidir, Aceh. Sedang yang lainnya menyatakan kata paderi berasal dari kata father yang berarti bapak, yang merupakan panggilan yang biasa diucapkan kepada kaum agama. Perang Paderi ini berkobar antara tahun 1821-1837[8].


Perang Paderi ini membawa pengaruh yang buruk bagi masyarakat luas, rakyatlah yang paling merasakan penderitaan akibat peperangan ini. Keadaan ini kemudian menyadarkan kaum Adat atas kekeliruan mereka, yang telah memerangi saudara mereka sendiri. Kesadaran ini akhirnya membuat mereka insaf atas kekhilafan yang telah melakukan sebelumnya. Akhirnya mereka merapatkan barisan dengan golongan ulama bersatu padu bahu membahu menghadapi sang penjajah.


Pada awal abad kedua puluh, animo masyarakat untuk belajar ke tanah suci tidak mengalami penyurutan. Hal ini karena membaiknya perekonomian masyarakat pada waktu itu. Sehingga tetap banyaknya pelajar yang berangkat ke tanah suci untuk melanjutkan pelajaran mereka.


Orang-orang Indonesia yang belajar di tanah suci lebih dikenal dengan sebutan al-Jawi; berasal dari kata jawa (pulau Jawa). Mereka diidentifikasi sebagai orang Jawa, karena Jawalah yang telah dikenal dalam pergaulan internasional pada masa itu. Dalam mempelajari ilmu Fiqh sebagian besar mereka berguru kepada syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, salah seorang putra Minangkabau yang mencapai prestise puncak sebagai Imam di masjid al-Haram dan ia mengajar di sana dalam bidang Fiqh mazhab Syafi’i.


Di antara murid Ahmad Khatib ini setelah kembali ke daerah asalnya menjadi ulama besar di daerahnya masing-masing. Muridnya yang berasal dari daerah Minangkabau antara lain: syekh Muhammad Djamil Dajmbek, syekh Abdul Karim Amrullah, Thaher Jalaluddin, Thaib Umar, Abdullah Ahmad, Daud Rasyidi, syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek), syekh Sulaiman ar-Rasuli, Muhammad Khatib Jaho, dan yang lainnya.


Dunia Islam secara umum pada waktu itu; awal abad kedua puluh, sedang bergema ide pembaharuan. Ide pembaharuan ini menyaurakan dibukanya pintu ijtihad untuk mengembangkan kreativitas berfikir umat Islam. Gerakan pembaharuan ini berkembang di Mesir. Hal ini antara lain karena Mesirlah yang ketika memasuki abad modern, pertama kali bersentuhan dengan dunia Barat. Pembaharuan ini digerakkan oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha[9].


Ide pembaharuan yang mereka suarakan, disosialisasikan melalui media cetak maupun lewat orasi ilmiah yang mereka laksanakan. Melalui majalah al-Urwah al-Wutsqa, majalah dan tafsir al-Manar; ide-ide pembaharuan itu didiserap dan ditransfer ke seluruh dunia Islam.


Di samping menggelorakan semangat ijtihad, pembaharuan ini juga menyerukan umat Islam untuk kembali kepada ajaran al-Qur’an dan Sunnah serta membebaskan diri dari taqlid buta, bersih dari dari segala bid’ah dan khurafat; serta persepsi yang salah menganggap fiqh itu sebagai bagian dari ajaran Islam yang bersifat mutlak, tidak dapat berubah, seperti halnya al-Qur’an dan Sunnah.


Dengan gerakan pembaharuan ini terbukalah mata umat Islam. Bahwa umat Islam telah tertinggal jauh dari Barat. Setelah kesadaran itu timbul, diharapkan mereka dapat memacu diri untuk mengejar ketertinggalan dan meraih kembali kejayaannya di masa silam.
Ide pembaharuan ini sampai ke Minangkabau dibawa oleh para ulama muda yang baru saja menyelesaikan pelajarannya di tanah suci. Di tanah suci, disamping mempelajari pengetahuan keagamaan, mereka juga mempelajari pembaharuan yang sedang menggema di dunia Islam pada saat itu. Hal ini memompa semangat mereka untuk lebih maju.


Mereka kemudian yang menggerakkan pembaharuan di Minangkabau. Mereka diidentifikasi dengan nama kaum Mudo (kaum muda). Mereka dikenal sebagai kaum funadamentalis, modernis, dan reformis. Sebagai kaum fundamentalis mereka berpegang pada al-Qur’an dan Hadis shahih. Mereka berusaha mensucikan ajaran Islam, menentang adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan segala amalan yang bersifat tahayul. Sebagai kaum modernis dan reformis, mereka mengutamakan perumusan kembali tentang ajaran Islam secara rasional yang mendorong kepada kemajuan. Mereka mendorong percepatan ekonomi dengan adanya badan perbankan dan koperasi, membela kaum perempuan untuk memperoleh haknya atas pendidikan yang layak dan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam usaha membuka kunci pintu kemajuan ini, mereka mendapat tantangan dari golongan yang konservatif, menolak kemajuan, tidak setuju dengan ide pembaharuan yang disuarakan oleh kaum mudo, merka disebut dengan kaum Tuo (kaum tua)[10].


Kaum Mudo sebagai agen perubahan sekaligus sebagai pressure kepada kaum Tuo dan menggugah kesadaran mereka atas kelemahan dan keterbelakangan mereka. Hal ini karena secara tradisional kaum Tuo hanyalah sebagai pemegang otoritas urusan “akhirat” seperti tukang doa, mengurus jenazah, dan sebagainya.


Pertentangan di antara mereka pada dasarnya berkaitan dengan faham keagamaan konservatif dan elit tradisional. Kaum Tuo bersikap taklid dan menganggap fiqh sebagai keyakinan yang tidak dapat berubah seperti halnya al-Quran dan Sunnah. Sedangkan kaum Mudo menyerukan dibukanya kebali pintu ijtihad dengan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Mereka juga mencela taklid buta yang mematikan kreativitas berfikir dan tidak mendorong kepada kemajuan. Perseteruan kedua golongan ini lebih dipertajam lagi karena kaum Tuo sebagai golongan yang konservatif mengikatkan diri dan berkoalisi dengan kaum Adat, sebagai golongan yang mempertahankan status quo.


Istilah kaum Mudo ini bertambah populer semenjak awal abad kedua puluh sebagai kelompok pelopor dan pengikut gerakan pembaharuan Islam abad ini. Istilah ini menjadi lebih dikenal setelah Taufik Abdullah menulis tesisnya”School and Politics, the Kaum Muda Movement in West Sumatra 1927-1933” pada tahun 1971.


Sebelumnya Roof dengan istilah kaum Muda dan kaum Tua dalam tulisannya,” Kaum Muda-Kaum Tua: Innovation an Reaction Amongst the Malay, 1900-1941” dalam Tregonning, K.G [ed] Paper on Malayan History yang diterbitkan pada tahun 1962 di Singapura [11].


Untuk menyuarakan ide dan gagasan, masing-masing mereka (kaum Mudo dan kaum Tuo), mendirikan majalah sebagai corong dalam menyaurakan ide mereka masing-masing. Sehingga terciplah sebuah dinamika. Majalah-majalah yang didirikan masing-masing pihak bukan saja sebagai sarana untuk menyampaikan ide dan merumuskan gagasan mereka tapi juga sebagai media untuk berpolemik tentang masalah-masalah yang mereka perselisihkan. Kedua kelompok sama-sama mempersiapkan diri dalam percaturan dan pergumulan intelektual ini.


Polemik yang terbuka di media tentu saja akan membawa dampak positif dan negatif. Dalam polemik ini tentu saja masing-masing pihak menyiapkan argumen dan kontra argumen terhadap pihak lawan. Proses ini tentu saja membutuhkan proses telaah dan belajar keras dari masing-masin pihak. Kegiatan ini tentu saja dapat meningkatkan dan memacu tingkat pengetahuan dan pemikiran mereka. Hal ini menjadi motor pemacu kemajuan yang positif untuk menggerakkan kemajuan umat.


Umat Islam yang mengikuti polemik ini secara seksama tentu saja akan tercerahkan. Pengetahuan dan wawasan keislaman mereka akan meningkat. Dengan membaca uraian pendapat, dalil yang dimajukan, argumen yang dikemukakan oleh masing-masing pihak yang berpolemik, akan menambah pengetahuan mereka terutama tentang masalah yang sedang digulirkan. Merekapun akan terangsang untuk membaca, menelaah, dan mengkaji lebih lanjut. Secara tidak langsung merangsang umat Islam untuk terus belajar, yang merupakan kunci untuk meraih kemajuan.




C. Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga


Inyiak Parabek dilahirkan pada hari Ahad, saat tengah hari tanggal 12 Syawal 1301 H (1884 M) di Parabek[12]. Ayahnya dikenal dengan gelar Inyiak Gaek Musa ibn Abd al-Malik; ia adalah seoarang ulama yang terkenal pada masanya. Ibunya bernama Maryam Ureh. Inyiak Parabek berasal dari suku Pisang nagari Parabek.


Nama kecilnya adalah Luthan. Sesuai dengan kebiasaan dalam masyarakat untuk berganti nama bagi mereka yang pulang menunaikan ibadah haji, hal ini pun diikuti oleh Inyiak Parabek. Setelah pulang dari tanah suci menunaikan ibadah haji, ia pun mengganti namanya menjadi Ibrahim. Lengkapnya adalah Ibrahim ibn Musa.


Inyiak Parabek memiliki seorang saudara perempuan kandung yang bernama Kamariyah, yang lebih dengan Amai Kama (nenek Kama). Dari adik perempuannya tersebut, Inyiak Parabek memiliki empat orang kemenakan[13]. Di antara kemenakannya itu ada juga yang mewarisi kealiman Inyiak Parabek dalam bidang agama.


Jika ditinjau dari status sosialnya, ia berasal dari keluarga yang terpandang di masyarakat. Di samping ayahnya yang merupakan seorang ulama, ia berasal dari keluarga yang berada (orang kaya). Keluarganya memiliki tanah dan persawahan yang luas. Keadaan perekonomian yang mapan ini sangat menunjang dalam memuaskan kehausan Inyiak Parabek dalam menuntut ilmu pengetahuan agama. Ia menuntut ilmu pengetahuan agama pada para ulama terkenal di Minangkabau pada masa itu. Ia pun kemudian melanjutkan pelajarannya ke tanah suci.




D. Perjalanan Intelektual


Pendidikan yang paling awal yang dienyam oleh Inyiak Parabek adalah pendidikan dan bimbingan keagamaan dari ayahnya sendiri. Ayahnya; Inyiak Gaek selaku seorang ulama memberikan bimbingan dan pelajaran agama dasar buat anaknya.


Setelah memperoleh bimbingan keagamaan tingkat dasar dan menamatkan pelajaran membaca al-Qur’an, maka bersiaplah ia untuk menuntut ilmu dari ulama lainnya. Model pendidikan agama pada masa itu adalah seorang murid mendatangi ulama atau guru agama untuk belajar pada guru atau ulama tersebut sesuai dengan spesialisasi dari ulama tersebut. Misalnya, untuk belajar ilmu Fiqh, maka seorang pelajar akan belajar pada ulama A. Jika ingin belajar ilmu Sharaf, maka belajar pada ulama B, dan demikianlan selanjutnya. Bila telah menamatkan pelajaran pada seorang guru, maka pelajar itu akan pindah untuk belajar pada guru yang lain. Sesuai dengan keinginan dari pelajar tersebut atau konsentrasi ilmu yang ditekuninya.


Kondisi ini juga berlaku untuk Inyiak Parabek. Setelah menamatkan pelajarannya dengan Inyiak Gaek, maka mulailah ia dikirim oleh ayahnya untuk belajar pada ulama-ulama besar di Minangkabau pada waktu itu. Selama ia menuntut ilmu tersebut, oleh pihak keluarganya ia dibantu dan ditemani oleh saudara sepersukuannya yang bernama Abdul Malik[14].


Tujuan pertama Inyiak Parabek dalam menuntut ilmu adalah daerah Pekandangan (Pariaman), yaitu belajar agama di surau (madrasah) syekh Mata Air. Ia belajar di sana selama satu tahun dan berhasil menyelesaikan, mengkhatamkan pelajaran Sharaf. Iapun mempelajari pelajaran Nahwu walaupun belum mendalam[15].


Kemudian ia belajar ke daerah Batu Taba (daerah Padang Panjang). Di sana ia belajar di surau Tuangku Angin. Di surau ini mulailah ia belajar Fiqh dengan mempelajari kitab Matan Minhaj. Ia belajar di surau ini selama satu tahun[16].


Setelah itu, ia bersama kakak sepersukuannya Abdul Malik belajar ke daerah Ladang Lawas (daerah ini tidak begitu jauh dari daerah Parabek, sekarang kedua daerah ini masuk ke dalam kecamatan yang sama; Banuhampu Sungai Puar). Di daerah ini mereka belajar di surau H. Abbas[17]. Pada masa itu Inyiak Parabek juga belajar ke daerah Biaro (daerah Ampek Angkek, Fort de Kock) untuk belajar di surau syekh Abdul Shamad yang dikenal juga dengan nama Tuangku Sami’. Pada kedua tempat tersebut, ia belajar kira-kira selama dua tahun. Pada masa ini ia mulai belajar Tafsir al-Qur’an[18].


Pada masa belajar di surau syekh Abdul Shamad inilah untuk terakhir kalinya Inyiak Parabek dalam proses menuntut ilmunya ditemani oleh kakak sepersukuannya; Abdul Malik. Adapun pada masa-masa selanjutnya dalam menuntut ilmi, ia berangkat seorang diri. Tercatat ia juga belajar ke daerah Sungai Landir (daerah ini berdekatan dengan daerah Parabek). Lalu meneruskan pelajarannya di surau syekh Jalaluddin al-Kasai. Berkat ilmu yang telah ditimbanya selama ini, mulailah ia faham dalam membaca kitab yang berbahasa Arab. Dan mulailah ia dipercaya sebagai guru tua; pelajar senior yang diberi kepercayaan untuk memberi pelajaran pada para pelajar yang yunior. Ia belajar di surau ini kira-kira satu setengah tahun lamanya, yakni sampai dengan pertengahan tahun 1320 H/ 1901 M. Masih pada tahun yang sama, ia lalu berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.


Pada bulan Rajab 1320 H/ 1901 M, ia menunaikan ibadah haji ke tanah suci ditemani kakak sepersukuannya; Abdul Malik. Selain menunaikan ibadah haji, di Mekah ia juga melanjutkan pelajarannya pada ulama-ulama di sana.


Di tanah suci, ia belajar pada syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang merupakan putra asli Mnangkabau. Berkat kealiman dan kedalaman ilmunya, syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi diangkat menjadi imam dan khatib di masjid al-Haram. Ia di sana mengajar bidang hukum Islam mazhab Syafi’i. Inyiak Parabek belajar juga pada syekh Djamil Djambek. Menjelang kepulangan sang syekh ke daerah asalnya Minangkabau. Ia tercatat juga belajar pada syekh Ali ibn Husein (yang di kemudian hari menjabat sebagai direktur bagian pelajaran di seluruh tanah Hijaz, yaitu di masa kerajaan Syarif Husein mengembangkan pengaruhnya di seluruh tanah Arab). Inyiak Parabek juga berguru pada syekh Mukhtar al-Jawi dan syekh Yusuf al-Khayat. Ia belajar di tanah suci selama enam tahun, yaitu sampai dengan awal tahun 1327 H.


Sekembalinya ke tanah air, ia membuka pengajian yang dipusatkan di masjid Parabek. Ramailah para pelajar yang datang hendak menuntut ilmu padanya. Ia memimpin langsung pengajian tersebut sampai tahun 1333 H/1914 M. Kemudian untuk sementara pengajian tersebut dilanjutkan oleh para pelajar yang senior karena sang guru melanjutkan pelajarannya kembali ke tanah suci. Keberangkatannya kembali ke tanah suci untuk kali kedua ini ditemani oleh istrinya yang bernama Syarifah Gani dan anaknya yang bernama Thaher Ibrahim.


Pada kesempatan ini ia bermukim di Mekah lebih kurang selama dua tahun. Pada saat itu terjadi konfrontasi antara Syarif Husein dengan Turki. Konfrontasi ini mengakibatkan terganggunya keamanan di tanah Hijaz. Selain gangguan keamanan juga berdampak pada lapangan kehidupan lainnya. Seperti kesengsaraan dan penderitaan bagi penduduk Hijaz sendiri dan juga umat Islam yang bermukim di sana. Kondisi yang kurang kondusif tersebut, memaksa Inyiak Parabek untuk kembali ke tanah air.


Pengajian yang telah dirintisnya di masjid Parabek dahulunya, sebagaimana telah dijelaskan di atas, tetap eksis berkat dedikasi para pelajar yang senior yang diamanahi untuk tetap menjalankan roda pengajian selama ia di tanah suci. Setelah ia kembali ke Parabek, pimpinan pengajian tersebut otomatis diserahkan kembali ke tangannya. Di bawah pimpinannya pengajian itu mengalami kemajuan yang pesat. Banyaklah para pelajar berdatangan dari berbagai penjuru daerah untuk belajar dan mentransfer ilmu darinya.
















F. Inyiak Parabek: Perjuang Kemerdekaan di Bidang Dakwah dan Pendidikan


Inyiak Parabek adalah ulama yang konsisten. Hidupnya sepenuhnya dibaktikan untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Sumatera Thawalib Parabek adalah medan perjuangannya, perguruan inilah warisannya yang paling berharga.


Pengabdian terhadap dunia dakwah dan pendidikan adalah jalan hidupnya. Di saat madrasah-madrasah lain bangkit dan tenggelam menghadapi kesulitan dan tantangan zaman, tetapi Sumatera Thawalib Parabek semenjak dicanangkan pendiannya tetap kokoh dan eksis sampai sekarang. Keberadaan Sumatera Thawalib Parabek telah ditempa selama tiga zaman; yakni zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan Kemerdekaan. Dalam keadaan kesulitan apapun itu proses belajar dan mengajar di Sumatera Thawalib Parabek tidak pernah berhenti. Walaupun harus menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pada saat itu.


Selama penjajahan Belanda dan Jepang, Inyiak Parabek tetap mengajar di madrasah yang dipimpinnya. Ia tidak terlibat langsung dalam konfrontasi bersenjata dengan penjajah. Ia memilih untuk mengobarkan semangat dan mengisi relung jiwa para pelajarnya dengan semangat nasinalisme dan patriotisme. Buku-buku para penggerak pembaharan modern di Mesir dibaca secara sembunyi-sembunyi. Beredarlah karangan-karangan Jamaluddin al-Afgahai, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, dan tokoh pembaharu lainnya melalui majalah al-Urwah al-Wutsqa dan al-Manar sebagai bahan bakar yang siap mengobarkan semangat umat Islam untuk mengusir penjajah dan mengejar ketertinggalan mereka.


Dalam pelajaran di Sumatera Thawalib Parabek dipelajari buku Islam Ruh Madaniyah atau yang lebih dikenal dengan judul Islam wa Cromer karangan syekh Musthafa al-Ghalayaini (ulama Dimsyiq) dan buku Islam wa Ulum wa Ashriyah karangan Tanthawi Jauhari. Kedua buku tersebut dilarang beredar oleh pemerintahan Belanda dan ditarik dari peredarannya karena kekhawatiran mereka akan kandungan buku-buku tersebut akan mengobarkan semangat menentang penjajahan yang tentu saja berdampak buruk bagi kekuasaan mereka.


Perjuangan melalui media pengajaran dan dakwah ini sangat besar kontribusinya. Para ulama dalah pemimpin umat, fatwa yang mereka keluarkan sangat didengar dan diperhatikan. Gerak-gerik mereka para ulama selalu diawasi secara ketat oleh penjajah. Semangat yang mereka pupuk di dada umat membuat penjajah secara de facto sulit untuk meguasai Minangkabau[19].


Suatu ketika Belanda mengeluarkan ordonansi guru dan sekolah liar. Ordonansi guru adalah melarang guru-guru agama Islam mengajar kalau tidak mendapat izin terlebih dahulu dari pemerintah kolonial Belanda. Ordonansi ini jika diberlakukan akan menghilangkan kemerdekaan penyiaran agama karena tekanan dari pemerintah kolonial. Dan ordonansi sekolah liar adalah peraturan pendaftaran sekolah yang dikelola oleh pribumi yang tujuan akhirnya mematikan sekolah-sekolah tersebut. Maka timbullah reaksi dari ulama-ulama di Minangkabau menentang ordonansi tersebut.


Dalam gelombang yang merupakan reaksi penentangan terhadap ordonansi itu, Inyiak Parabek selaku salah seorang ulama yang terkemuka memainkan peranan yang cukup signifikan. Reaksi yang keras tersebut akhirnya membuahkan hasil sehingga kedua ordonansi tersebut gagal diberlakukan.


Pada masa penjajahan Jepang misalnya, madrasah lain ditutup untuk sementara bahkan ada yang ditutup dan tidak pernah dibuka lagi. Namun Sumatera Thawalib Parabek tetap berjalan walaupn jumlah pelajarnya yang minim dan belajar dalam kondisi yang darurat. Minimnya pelajar yang masih menetap untuk belajar karena kesulitan penghidupan memaksa mereka untuk kembali ke daerah asalnya dan juga karena faktor keamanan—karena dalam kondisi perang. Pelajar yang tetap belajar dan tinggal di Parabek adalah mereka yang berasal dari daerah parabek dan sekitarnya. Kebijakan untuk tetap membuka pelajaran di Sumatera Thawalib Parabek dalam situasi sesulit apapun yang dihadapi berdasarkan pertimbangan karena kalau sekolah ditutup akan sulit untuk membukanya kembali [20].


Peristiwa dramatis yang dialami Inyiak Parabek di masa penjajahan Jepang adalah peristiwa kapal bocor. Inyiak Parabek termasuk dalam daftar list hitam bala tentara Jepang-- orang-orang yang akan disingkirkan. Datanglah panggilan untuk Inyiak Parabek beserta dengan anggota rombangan lainnya untuk turut serta ke Singapura dengan naik kapal. Kapal yang digunakan untuk mengangkut mereka dikabarkan adalah kapal bocor, yang memang telah disiapkan sebelumnya untuk ditenggelamkan di tengah lautan beserta seluruh penumpang dan awak kapalnya. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan seluruh rombangan sampai kembali ke Minangkabau[21].


Inyiak Parabek pun turut aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Ia turut ambil bagian antara lain:
1. Pendiri Lasykar Jihad Rakyat di Bukittinggi (1943)
2. Anggota dari Majlis Islam Tinggi di Bukittinggi (1943)
3. Turut membentuk Barisan Sabilillah (1946)
4. Imam Jihad (1946)
5. Pendamai Peristiwa 3 Maret di Bukittinggi. Peristiwa in terjadi 3 Maret 1947 dalah pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh barisan-barisan pejuang bersenjata. Akibat kurangnya koordinasi dan terjadinya kecemburuan di antara mereka dengan tentara pemerintah sehingga menyebebkan terjadinya coup de taat[22].
6. Pengurus Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI). PGAI adalah perkumpulan guru-guru agama Islam yang didirikan pada tahun 1918. Penggagasnya adalah H. Abdullah Ahmad yang berasal dari Padang. PGAI beranggotakan seluruh ulama di Minangkabau. Tujuannya adalah untuk memperkuat persatuan di antara mereka. Usaha PGAI antara lain adalah mendirikan sekolah untuk guru. Sekolah ini kemudian dinamai dengan nama yang sama dengan perkumpulan tersebut, yakni PGAI[23].
7. Anggota pengumpul bakti emas. Bakti emas yang dilaksanakan Inyiak Parabek beserta para ulama lainnya di Sumatera Tengah pada waktu itu terutama untuk membeli pesawat terbang yang akan digunakan oleh para pemimpin kita untuk berdiplomasi ke luar negeri. Inyiak Parabek beserta para ulama itu mencoba menggugah kesadaran masyarakat untuk membantu perjuangan kemerdekaan. Sambutan yang spontaitas masyarakatpun sangat menggembirakan, mereka dengan penuh kesadaran melepas perhiasan-perhiasan yang mereka pakai[24].
8. Ketua Majlis asy-Syura wa al-Fatawa Sumatera Tengah
9. Ketua Dewan Kurator dan Dosen Perguruan Tinggi Islam Dar al-Hikmah, Bukittinggi
10. Anggota Dewan Kurator Universitas Andalas.
11. Anggota Korespondensi Majlis Syara’ dan Kesehatan, Kementrian Kesehatan RI.
12. Anggota Dewan Konstituante no. 260 (1956). Inyiak Parabek menjadi anggota Dewan Konstituante berasal dari partai Masyumi. Ia bukanlah salah seorang pengurus partai tersebut. Tetapi ia menjadi anggota Dewan Konstituante karena permintaan para muridnya yang aktif di partai Masyumi.


Pada saat terjadinya pergolakan PRRI akibat kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, Inyiak Parabek ikut memberikan dukungan moril. Ia ikut mengungsi ke daerah Guguk Tinggi, kemudian pindah ke daerah Maninjau dan terakhir ke daerah Batu Kambing (Lubuk Basung). Keputusan ini ia lakukan setelah salat Istikharah terlebih dahulu. Ia kembali ke Bukittinggi pada tahun 1961 dengan kondisi fisik yang lemah setelah sekian lama di daerah pengungsian yang tentu saja penuh keterbatasan dan keprihatinan[25]. Setelah kondisi pisiknya membaik, di mulailah kembali pengajian umum di masjid Parabek.


Berhubung kondisi matanya yang sakit, lalu ia berobat ke Jakarta. Pada masa itu anak-anaknya telah lama bermukim di sana. Setelah menjalani operasi dan terobati rasa rindu dengan keluarga, ia pulang kembali ke Parabek.


Kondisi fisiknya sebenarnya telah banyak penurunan. Hal ini karena penderitaan selama mengungsi pada masa PRRI di samping karena faktor usianya yang telah lanjut. Kondisi yang demikian tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap mengajar. Walaupun sebenarnya pihak keluarga, sebagian guru dan masyarakat memintanya untuk berhenti mengajar dan lebih banyak beristirahat di rumah. Ia menjawabnya dengan tegas,” Saya ingin berpulang (wafat) dalam keadaan melakukan wirid (pengajian) ini” [26].


G. Inyiak Parabek dalam Bermazhab


Berikut ini akan kita lihat bagaimana Inyiak Parabek menanamkan dasar-dasar bermazhab kepada para pelajar di Sumatra Thawalib Parabek.


a. Pembinaan dasar-dasar bermazhab di Sumatra Thawalib Parabek.


Di madrasah Sumatera thawalib, Inyiak Parabek mewariskan ilmunya kepada para muridnya. Dalam mengajarkan fiqh, ia bersemboyan, “matangkanlah satu-satu, lalu ambillah yang lain untuk jadi perbandingan dan jangan menutup diri pada satu mazhab saja[27]. Maksud dari semboyan ini adalah dalam mempelajari ilmu fiqh, para pelajar di tingkat awal diajarkan kitab fiqh bermazhab Syafi’i. Pengetahuan tentang mazhab Syafi’i ini merupakan dasar dan landasan serta bekal dan pengetahuan dan amalan mereka sehari-hari. Setelah mereka menguasai masalah-masalah fiqh dalam mazhab Syafi’i, barulah di kelas akhir Sumatera Thawalib diajarkan pelajaran fiqh dengan metode perbandingan dari berbagai mazhab.


Ketetapan untuk mengajarkan mazhab Syafi’i menjadi daya tarik tersendiri bagi madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Ini diikuti juga dengan kebebasan mempelajari mazhab lainnya sebagai perbandingan. Pelajar tidak terpaku pada satu mazhab saja melainkan harus mempelajari mazhab-mazhab lain.


Dalam memberikan fatwa hendaklah memberikan kesimpulan setelah mempelajari pendapat para ulama mazhab. Dengan ini nampaklah bahwa penekanan pada mazhab Syafi’i hanyalah semata-mata untuk mencegah keragu-raguan. Lagi pula dengan dasar pertimbangan mazhab Syafi’i dianggap tidak ekstrim dan merupakan pegangan mayoritas umat Islam Indonesia.
Kebijakan ini berbeda dengan Thawalib Padang Panjang yang bebas mazhab ataupun Tarbiyah Islamiyah Candung yang berpegang pada mazhab Syafi’i. Sehingga jumlah pelajar yang belajar di Parabek melebihi sekolah-sekolah itu [28].


Dalam mengajarkan pelajaran fiqh di kelas, Inyiak Parabek selalu membuka ruang tanya jawab di akhir pelajaran. Tanya jawab ini biasanya tentang materi pelajaran yang sedang di pelajari kaitannya dengan kreasi yang ditemui di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian materi yang dipelajari dapat dikuasai oleh para pelajar secara mendalam. Namun di sisi lain tentulah membutuhkan waktu pelajaran yang cukup panjang. Dampaknya, biasanya suatu kitab fiqh yang dipelajari tidak dipelajari sampai tamat. Tetapi suatu kitab dipelajari pada kelas atau tingkat tertentu dan setelah kenaikan kelas (tahun ajaran berikutnya), dipelajari kitab yang lain. Bahagian kitab yang tidak sempat dipelajari di kelas dilanjutkan sendiri secara mandiri oleh para pelajar. Adapun kesulitan yang tidak dapat mereka pecahkan dapat ditanyakan kepada guru di luar jam pelajaran madrasah. Inilah suatu bentuk pembinaan Inyiak Parabek kepada para pelajarnya untuk kemandirian mereka dalam menuntut ilmu.


Mazhab Syafi’i yang dipelajari di madrasah Sumatera Thawalib Parabek sangat cocok dengan masyarakat Indonesia umumnya. Amalan dengan berpedoman pada mazhab Syafi’i tersebut menjadikan lulusan Sumatera Thawalib Parabek dapat diterima baik di tengah-tengah masyarakat. Penerimaan masyarakat dengan tangan terbuka ini memuluskan tugas yang mereka empan dalam pembinaan masyarakat. Sehingga ide dan gagasan pembaharuan yang mereka bawa mudah diterima masyarakat.


Pada tingkat akhir pelajar yang belajar di Sumatera Thawalib mendapatkan pelajaran fiqh dengan metode perbandingan mazhab. Pelajaran fiqh perbandingan mazhab ini mengajarkan pada pengetahuan tentang sebab-sebab perbedaan di kalangan ulama tentang suatu masalah fiqhiyah. Pengetahuan tentang sebab-sebab perbedaan di kalangan ulama dalam penggunaan dalil yang melandasi istinbath hukumnya menyebabkan sikap tasamuh/ toleransi. Karena perbedaan di kalangan para ulama itu bukanlah perbedaan belaka tetapi dilandasi oleh dalil-dalil pendapat mereka masing-masing[29].


Pelajaran fiqh perbandingan ini menjadikan pelajar Sumatera Thawalib memiliki wawasan fiqh yang luas. Pengetahuan dalam fiqh perbandingan membantu mereka dalam menjelaskan perbedaan yang terlihat di masyarakat dalam penerapan mazhab fiqh. Selanjutnya menjadikan mereka orang-orang alim yang moderat, toleran dengan perbedaan yang ada bahwa perbedaan tersebut adalah khazanah dari hukum Islam yang tidak perlu dikhawatirkan tetapi perbedaan tersebut membawa kepada keluwesan dan kemudahan.


Kitab-kitab fiqh mazhab Syafi’i yang diajarkan itu adalah kitab Matan Taqrib, Fath al-Qarib karangan Ibn Qaim (w. 918 H), I’anah ath-Thalibin karangan ad-Dimyati (w. 130 H), dan Mazhab karangan al-Firuzabadi (w. 476 H) dan kitab fiqh perbandingan yang dipakai adalah kitab Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid karangan Ibn Rusyd (w. 595 H).
Peningkatan wawasan pelajar Sumatera Thawalib dalam fiqh perbandingan ini dilakukan juga dalam ekstra kurikuler pelajar; debating club.




b. Sikap Inyiak Parabek dalam bermazhab


Inyiak Parabek adalah seorang ulama yang bijaksana dibandingkan dengan tokoh-tokoh Thawalib lainnya. Ia faham betul betapa terikatnya masyarakat Minangkabau dengan mazhab Syafi’i. Iapun memberikan penghargaan yang tinggi terhadap mazhab tersebut di lingkungan Sumatera Thawalib Parabek.


Dalam kehidupan kesehariannya, Inyiak Parabek juga memperlihatkan keluasan pandangannya. Misalnya dalam masalah qunut, menurutnya boleh diamalkan dan boleh juga tidak diamalkan. Rasulullahpun kadang-kadang mengerjakan qunut dan kadang-kadang tidak.


Inyiak Parabek bersikap tasamuh dalam menyikapi perbedaan mazhab dalam praktek di masyarakat. Perbedaan amalan itu haruslah berdasarkan pendapat dan dalil yang jelas sumber pengambilannya. Dengan demikian Inyiak Parabek bersikap toleran terhadap praktek atau amalan dari mereka yang mengerti dan faham tentang masalah agama yang berbeda dengannya. Dan ia akan memberikan penerangan dan pengarahan terhadap orang awam yang beramal di luar kebiasaan masyarakat tentang amalan yang mereka lakukan.


Dalam amalannya sehari-hari Inyiak Parabek mengamalkan mazhab Syafi’i. hal ini selaras dengan apa yang telah beliau tanamkan kepada para pelajarnya. Secara tidak langsung Inyiak Parabek menjadi teladan bagi mereka dan selanjutnya bagi masyarakat luas.


Dalam menjawab pertanyaan masyarakat kepadanya, Inyiak Parabek memberikan jawabannya dalam empat bentuk, sebagai berikut:


a. merujuk jawabannya langsung kepada sumber utama hukum Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Dalam mengungkapkan al-Qur’an maupun hadis diikuti dengan penjelasan arti dan maksudnya. Selanjutnya dijabarkan cara penggalian hukum dari dalil-dalil tersebut (istinbath hukum).


b. Mengungkapkan pendapat ulama tertentu tentang masalah tersebut. Pendapat ulama yang dikutip antara lain sahabat, imam mazhab, para ulama lainnya.
c. Menjelaskan perbedaan pendapat para ulama berkaitan dengan masalah yang sedang ditanyakan. Ia menjelaskan ikhtilaf para ulama dengan menyebutkan pendapat masing-masingnya. Inyiak Parabek biasanya tidak memberikan preferensi untuk mengikuti pendapat tertentu. Tetapi memberikan keleluasaan untuk memilih dan mengikuti pendapat yang lebih cocok bagi mereka. Tentu saja setelah terang bagi mereka letak perbedaan pendapat di antara mereka dan alasan-alasan yang mereka ajukan.


d. Mengutip jawaban persoalan tersebut pada kitab tertentu dengan menyebutkan nama kitab yang dikutip tersebut. Adakalanya berupa pendapat dari pengarang kitab tersebut. Ataupun pendapat ulama-ulama lain yang dikutip oleh si pengarang. Kitab-kitab yang jadi rujukannya antara lain: al-Mahalli, Minhaj karangan Imam Nawawi, Siraj al-Munir syarh al-Jami’ ash-Shagir, ar-Ruyadh al-Wardiyah, Bughiyah al-Mustassydin, al-Jami’ ash-Shagir karangan as-Suyuti, al-Muhazzab karangan asy-Syairazi, al-Bujairi karangan Sulaiman al-Bujairimi, Ihya ‘Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali dan kitab lainnya.




H. Inyiak Parabek dan Gerakan Kaum Mudo


Inyiak Parabek adalah profil seorang ulama yang lekat di hati umatnya. Walaupun ia telah lama meninggal namun nama dan jasa-jasanya masih tetap diingat dan dikenang di hati umat. Ia berhasil membina masyarakat Parabek. Masjid ramai dikunjungi dalam pelaksanaan salat lima waktu. Para perempuan mengenakan tutup kepala mereka ketika keluar rumah. Nilai-nilai keagamaan melekat dalam kehidupan keseharian mereka.


Praktek yang bertentangan dengan ajaran agama pun tidak terlihat lagi. Perjudian, menyabung ayam, dan lainnya telah lama ditinggalkan masyarakat. Begitu juga kebiasaan makan dan minum ditempat kematian dan ritual terkait dengan hari kematian (meniga, menujuh hari) tidak dipraktikkan lagi. Hal ini selalu ia suarakan pada setiap pengajian yang ia laksanakan dan melalui pengajaran di Sumatera Thawalib Parabek.


Ia mengcounter atas praktek taqlid yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat pada masa itu. Pandangan yang ada di masyarakat bahwa kewajiban mengikuti pendapat ulama itu setara dengan kewajiban mengikuti al-Qur’an dan Hadis. Mereka yang berbeda atau menyalahinya berarti menyimpang dari syari’at.
Inyiak Parabek mencoba merubah pandangan tersebut. Dalam syari’at Islam terdapat dinamika perbedaan pendapat di kalangan para ulamanya. Perbedaan ini didasarkan pada perbedaan dalam pengambilan dalil dan argumentasi. Perbedaan pendapat ini merupakan kemudahan dan keluwesan bagi umat Islam.


Penekanan terhadap toleransi dalam bermazhab menjadikan Inyiak Parabek beserta kaum Mudo lainnya digelari sebagai pembaharu di Minangkabau. Mereka sebagai golongan pembaharu berusaha mengubah pandangan dan sikap masyarakat yang bersikap fanatik buta terhadap mazhab yang mereka anut. Serta sikap tidak toleran terhadap perbedaan pendapat dan mazhab yang berbeda dengan yang mereka anut.


Inyiak Parabek adalah ulama kaum Mudo yang moderat di antara perseteruan antara kaum Mudo dan kaum Tuo di Minangkabau. Demikian juga dengan Sumatera Thawalib adalah basis dari gerakan pembaharuan kaum Mudo yang moderat.


Pembaharuan yang ia sampaikan dengan santun sehingga dapat diterima kedua belah pihak. Integritas keilmuannya yang diakui dan pembaharuan yang ikut ia suarakan memposisikannya sebagai pemimpin kaum Mudo yang disegani. Kedekatannya dengan golongan Adat yang merupakan kolega kaum Tuo, membuat Inyiak Parabek diterima juga pada kaum Tuo. Inyiak Parabek bersikap akomodatif terhadap masyarakat adat. Ia membiarkan, tidak melarang praktik adat yang berlaku di masyarakat selama tidak bertentangan dengan hukum Islam. Jika terdapat praktik yang tidak sejalan dengan syari’at Islam, ia luruskan secara halus, dengan penjelasan yang santun. Sehingga kritik yang disampaikan dapat diterima dengan tangan terbuka.




I. Wafat
Pada hari Selasa 23 Januari 1963, dua hari sebelum meninggal dunia, ia menerima tamu dari Dar al-Funun Padang Japang (Payakumbuh). Merekapun bermaksud mengundang Inyiak Parabek untuk menghadiri acara hari ulang tahun madrasah tersebut. Undangan tersebut dijawabnya dengan, Insya Allah kalau badan sehat saja.”


Namun keesokan harinya, Rabu, ia jatuh sakit. Pada hari Kamisnya dr. Riva’i (seorang dokter senior yang dikenal di masa itu di Bukittinggi) diminta datang ke Parabek untuk merawatnya. Setelah diperiksa dan diberi obat, dokter tersebut kembali ke Bukittinggi. Sebelum kembali, ia berpesan agar Inyiak Parabek dijaga dan dirawat sebaik-baiknya. Pada malam itu berkumpullah para majlis guru Sumatera Thawalib di rumahnya.


Istri dan anak-anaknya sedang berada di Jakarta. Karena keadaan Inyiak telah kritis, maka dikirimkanlah telegram ke Jakarta. Sebelum telegram selesai dibuat, keadaan Inyiak Parabek bertambah kritis, akhirnya pada jam 21.10 WIB –tanggal 25 Januari 1963, ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Innaa lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Malam itu juga dibentuk panitia kecil untuk mengurus pemakamannya.


Setelah salat Jum’at dan salat jenazah yang diimami oleh Inyiak Muhammad Shiddik Birugo (Bukittinggi), jenazahnya dikuburkan di halaman depan masjid Jami’ Parabek. Dikuburnya Inyiak Parabek di halaman depan masjid Jami’ Parabek ini merupakan atas permintaan orang kampung, orang daerah Parabek[30]. Setelah sebelumnya sebenarnya pihak keluarga menginginkan pemakamannya di pemakaman keluarga di sebelah Barat madrasah Sumatera Thawalib Parabek sekarang [31].


Gubernur Sumatera Barat memberikan penghargaan sebagai Pahlawan atas jasa-jasa Inyiak Parabek dalam dunia pendidikan di Sumatera Barat. Penghargaan ini diberikan dalam rangka hari Kemerdekaan RI ke-XXIX tanggal 17 Agustus 1974. Dan Hamka memasukkannya sebagai salah seorang ulama “Harimau Nan Salapan” (Harimau yang Delapan) di awal abad kedua puluh. Harimau Nan Salapan itu adalah Abdul Karim Amrullah, Abdullah Ahmad, Djamil Djambek, Muhammad Thaib Umar Sungayang, Ibrahim Musa (Inyiak Parabek), Abbas Abdullah Padang Japang, dan Musthafa Abdullah Padang Panjang[32]. Merekalah yang menggerakkan pembaharuan awal abad kedua puluh di Minangkabau.




J. Penutup


Demikianlah pembaharuan yang disuarakan oleh Inyiak Parabek dan kaum Mudo di Minangkabau pada awal ke-20. Madrasah Sumatera Thawalib—termasuk madrasah Sumatera Thawalib Parabek ini menjadi pondasi dari pendidikan modern di Minangkabau yang terus berproses dan berkembang sampai sekarang.










Daftar Pustaka




Abdullah, Taufik, School and Politics, The Kaum Muda Movement In West Sumatera (1927-1933), Monograf Series Cornel Modern Indonesia Project South East Asia Program Cornel University Ithaca, New York, March 1971


____________, Sejarah Lokal Indonesia, Yogyakarta: Gajahmada Universiti, 1985


____________, Islam dan Masyarakat, Jakarta: LP3ES, 1996, cet.ke-2


Arjun, M, Alamanak S Thawalib 1928 dalam [ed] Labiah, Anwar Adjazi St Rangkayo, Bunga Rampai Sumatera Thawalib, 1984


Badan Pemurnian Sejarah Indonesia-Minangkabau, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Minangkabau 1945-1950, Jilid I, Jakarta: BPSIM, 1978


Batuah, Abdul Ghaffar St, Profil Keutamaan Syekh Ibrahim Musa, Parabek Juli 1999


Busyairi, Badruzzaman, Catatan Perjuangan HM Yunan Nasution, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985, cet.ke-1


Daya, Burhanuddin, Gerakan Pembaharuan Islam Kasus Sumatera Thawalib, Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1995, cet. Ke-2


[ed] Edwar, et.al, Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, Padang: Islamic Centre Sumatera Barat, 1981, cet.ke-1


Firdaus AN, Pesan-Pesan Islam, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994, cet.ke-1


Hamka, Ayahku, Jakarta: Umminda, 1982, cet.ke-2


____________, Kenang-Kenangan Hidup I, Jakarta: Bulan Bintang, 1979, cet.ke-4


____________, Telah Berpulang ke Rahmatullah Syekh Ibrahim Musa Parabek 1301-1383H/ 1884-1963M dalam [ed] Labiah, Anwar Adjazi St Rangkayo, Bunga Rampai Sumatera Thawalib, 1984


[ed] Labiah, Anwar Adjazi St Rangkayo, Bunga Rampai Sumatera Thawalib, 1984


____________, Sejarah Ringkas Syekh Ibrahim Musa (1884-1963) dalam [ed] Labiah, Anwar Adjazi St Rangkayo, Bunga Rampai Sumatera Thawalib, 1984


Mansur MD dkk, Sejarah Minangkabau, Jakarta: Bharata: 1970


Murodi, Melacak Asal-Usul Gerakan Paderi di Sumatera Barat, Jakarta: Logos, 1999, cet.ke-1


Na’im, Mochtar, Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau, Yogyakarta: Gadjahmada Universty Press


____________, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, Penelitian, tth, tidak diterbitkan


Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1992, cet.ke-9


Noer, Deliar, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996, cet.ke-8


[ed] Safwan, Mardanas dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat, Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebuayaan Daerah, 1980


Salmadanis, Profil Syeikh Ibrahim Musa Sebagai Da’i, Fakultas Dakwak, jurusan PPAI, IAIN Imam Bonjol Padang, 1986 (tidak dipublikasikan)


Suar, Imam, Afdhaliyah asy-Syekh Ibrahim Musa, 1996 (tidak dipublikasikan)


Sumatera Thawalib Parabek, Verslag dan Notulen Pertemoean Besar jang Pertama, 27-29 Radjab 1343 H/ 18-20 Januari 1928, Fort de Cock: Tsamaratul Ikhwan, 1928


Suar, Imam, Afdhaliyah asy-Syekh Ibrahim Musa, 1996 (tidak dipublikasikan)


Yanggo, Humaemah T, Pengantar Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Logos, 1997), cet.ke-1
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Mutiara, 1978, cet.ke-2




[1] Kata Inyiak Parabek terdiri dari dua kata. Pertama, kata Inyiak dalam masyarakat Minangkabau merupakan panggilan bagi laki-laki yang telah tua; seperti pengunaan kata kakek dalam bahasa Indonesia. Dalam penggunaannya terdapat perubahan makna, seperti penggunaannya pada kata Inyiak Parabek. Kata Inyiak di sini berarti syekh, atau ulama yang dituakan dan dihormati. Adapun kata Parabek dibelakang kata Inyiak adalah nama tempat ia mengajar. Jadi Inyiak Parabek berarti syekh atau ulama terkenal dan dihormati yang mengajar di daerah Parabek. Parabek adalah sebuah desa yang terletak lebih kurang dua kilo meter dari kota Bukittinggi, berada di kaki gunung Singgalang. Parabek termasuk desa Ladang Laweh II, kecamatan Banuhampu Sungai Puar, kabupaten Agam, Sumatera Barat. [ed] Safwan, Mardanas dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat, Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1980, h. 164
[2] Ketiganya dikenal juga dengan nama : H. Miskin Pandai Sikek, H. Sumanik bernama asli H Muhammad Arif, dan H. Piobang bernama asli H. Abdurrahman.
[3] Hamka, Ayahku, (Jakarta: Umminda, 1982), cet.ke-2, h. 14 dan Daya, Burhanuddin, Gerakan Pembaharuan Islam Kasus Sumatera Thawalib, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1995), cet. Ke-2, h. 7-8
[4] Hamka, op.cit, h. 15
[5] MD Mansur dkk, Sejarah Minangkabau, ( Jakarta: Bharata: 1970), h. 121
[6] Hamka, op.cit, h.16-17
[7] Ibid, h. 17
[8] Hamka, Loc.cit
[9] Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1992, cet.ke-9, h. 55
[10] Daya, op.cit, h.74
[11] Ibid, h. 75
[12] Hanya Yunan Nasution yang menyebutkan penanggalan kelahiran Inyiak Parabek, yakni tanggal 15 Agustus 1884 Lihat Busyairi, Badruzzaman, Catatan Perjuangan HM Yunan Nasution, (Jakarta: Panjimas 1985: h. 18). Arjun, M, Alamanak S Thawalib 1928 dalam [ed] Labiah, Anwar Adjazi St Rangkayo, Bunga Rampai Sumatera Thawalib, 1984, h. 1 dan Labiah, Anwar Adjazi St Rangkayo, Sejarah Ringkas Syekh Ibrahim Musa dalam [ed] Labiah, Anwar Adjazi St Rangkayo, Bunga Rampai Sumatera Thawalib, 1984, h. 5
[13] Kemenakan dalam bahasa Minangkabau berarti anak dari saudara perempuan. Dan kedudukan Inyiak Parabek dalam adat Minangkabau adalah sebagai Mamak. Kemenakannya itu adalah H. Salim, Zainuddin, Sidi Chatib dan Hasbullah. Kemenakan beliau; H. Salim semasa hidupnya adalah guru Sumatera Thawalib Parabek.
[14] Keterangan tentang Abdul Malik ini tidak banyak diperoleh. Namanya seakan hilang begitu saja dari catatan perjuangan Inyiak Parabek maupun catatan sejarah Sumatera Thawalib Parabek. Menurut penuturan Jawariyah bahwa Abdul malik ini mendarmabaktikan ilmunya sebagai guru mengaji; tulis baca al-Qur’an di daerah Parabek. Ia tidak melibatkan diri di Sumatera Thawalib Parabek. Wawancara di Jakarta, 26 September 1999.
[15] Arjun, loc.cit


[16] Ibid
[17] H. Abbas Ladang Lawas/Laweh (1285-1370 H) adalah mantan Kadi Landraad pada zaman penjajahan Belanda di Bukittinggi. Ia merupakan salah seorang pencetus ide berdirinya persatuan madrsah-madrasah agama dengan nama madrasah Tarbuyah Islamiyah [ed] Edwar, et.al, Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, Padang: Islamic Centre Sumatera Barat, 1981, cet.ke-1 , h 67-75
[18] Arjun, op.cit, h.1-2
[19]Abdullah, Taufik, Islam dan Masyarakat, Jakarta: LP3ES, 1996, cet.ke-2,h. 216- 217
[20] Ghaffar, Abdul, wawancara pada 1999
[21] Sa’adah, Loc.cit
[22] Badan Pemurnian Sejarah Indonesia-Minangkabau, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Minangkabau 1945-1950, Jilid I, Jakarta: BPSIM, 1978, h. 421-441
[23] Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Mutiara, 1978, cet.ke-2, h. 93 dan 97
[24] Badan Pemurnian, op.cit, h. 70-71
[25] [ed]Labiah, op.cit, h.9-10
[26] Ibid
[27] Edward, op.cit, h.161
[28] Daya, op.cit, h. 128-129
[29] Untuk menelaahan lebih lanjut tentang perbedaan mazhab dalam khazanah hukum Islam rujuk lebih lanjut Yanggo, Humaemah T, Pengantar Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Logos, 1997), cet.ke-1


[30] Memang lazim ditemui di daerah Minangkabau seseorang ulama yang meninggal dunia dikuburkan di depan masjid yang menjadi pusat penyiaran dakwahnya, seperti Inyiak Djamil Djambek dimakamkan di depan masjidnya yang dikenal dengan surau Inyiak Djambek di daeradh Pasar Bawah, Bukittinggi.
[31] Sa’adah, loc.cit
[32] Telah Berpulang ke Rahmatullah Syekh Ibrahim Musa Parabek 1301-1383H/ 1884-1963M dalam [ed] Labiah, Anwar Adjazi St Rangkayo, Bunga Rampai Sumatera Thawalib, 1984, h. 45

Tidak ada komentar:

Posting Komentar